Rabu, 08 Mei 2013

Sepakbola Dan "Politik"

Ya, saat ini sepakbola sudah mulai teracuni oleh dunia politik. Sepakbola sudah seperti ladang "kampanye" baru bagi para poli"tikus". Mereka (para "tikus-tikus") lebih mementingkan kepentingan pribadi/golongannya sendiri dan menghalalkan semua yang berbau haram.

Mungkin kita, para pecinta sepakbola, khususnya di Indonesia, pasti lelah dengan segala konflik yang ada persepakbolaan Indonesia. Beberapa tahun yang lalu, induk sepakbola nasional PSSI, juga terjangkit "virus" yang bernama politik. Pada masa kepemimpinan NH, walaupun prestasi timnas kita lumayan membanggakan, tapi di balik itu semua ada sebuah kasus yang menjerat pemimpinnya. KORUPSI ! 

Setelah lengsernya NH, maka terpilih JAH. Namun, bukannya prestasi yang diraih melainkan "menciptakan" konflik baru. Ibarat pepatah, "Habis gelap era NH, Terbitlah Suram era JAH". Yap, masalah yang satu selesai, timbul masalah lain. Cobaan memang gak ada habisnya broo.. . Kali ini malah lebih parah. Yang "haram" menjadi "halal" dan yang "halal" menjadi "haram". Kayak MUI aja. Belum lagi konflik internal di tubuh organisasi PSSI. Kubu yang satu berlindung atas "statuta", yang satu lagi berdalih atas "suara" dan "dukungan" pecinta sepakbola Indonesia.

Nah, yang jadi pertanyaan, emang bener ya "statuta" harus ada keberpihakan atas satu kubu ?? Apa bener "suara" dan "dukungan" para pecandu sepakbola Tanah Air menginginkan adanya perpecahan ???

Sepakbola Indonesia ini memang unik, sedikit konyol dan mungkin hanya terjadi di negara kita sendiri, Indonesia. Setelah adanya "rujuk" kembali di pucuk kepemimpinan PSSI, ehh sekarang giliran anggotanya yang ngambek. Unik kan ??

Selain itu, klub-klub yang memiliki dualisme di liga tidak disertakan dalam penyatuan liga. Klub-klub tersebut kemudian melakukan protes dan banding terhadap keputusan PSSI. Mereka protes dengan dalih keberpihakkan dan ketidak adanya keadilan. Anehnya, mereka sendiri yang memisahkan atau men"dualisme"kan liga, ehh malah mereka yang protes. Konyol ?? Dan ini hanya ada di Indonesia.

Kita masih ingat dengan peristiwa kerusuhan supporter sepakbola di Mesir yang menelan banyak korban. Ibarat pepatah "Tak mungkin ada asap kalau tak ada kompornya". Disinyalir kerusuhan antara dua supporter tersebut karena masing-masing kelompok supporter tersebut beraliran politik yang berseberangan.

Selain di Mesir, masalah serupa juga pernah menimpa persepakbolaan Negeri Pizza, Italia. Di mana pada saat itu era 60'an FIGC (PSSI-nya Italia) dipimpin oleh Agnelli yang merupakan presiden dari klub Juventus. Banyak keputusan-keputusan FIGC yang lebih berpihak pada klub asal kota Turin tersebut. Contoh yang nyata yaitu pada tahun 1961, saat Juventus menjamu rival abadinya FC Internazionale Milano. Pertandingan tersebut kemudian dihentikan oleh wasit dikarenakan para pendukung Juve menerobos masuk hingga ke pinggir lapangan, dan secara otomatis Inter dinyatakan menang. Namun, pihak Juve melakukan banding atas keputusan wasit. Karena FIGC pada waktu itu dipimpin oleh presiden klub Juve sendiri, maka banding Juve pun diterima, sehingga dilakukan pertandingan ulang. Kubu Inter melakukan protes dengan menurunkan tim Primaveranya saat berhadapan dengan Juve di partai ulang. Hasilnya pun bisa di tebak, Inter Primavera kalah telak.

Yaa, mungkin dari beberapa peristiwa di atas, kita hanya bisa berharap:
"Semoga persepakbolaan Indonesia dan dunia tidak terjangkit politi, dan mungkin yang lebih penting lagi sebaiknya orang yang memimpin induk organisasi sepakbola adalah ORANG yang MENGERTI sepakbola, PAHAM sepakbola, dan CINTA terhadap sepakbola"

GARUDA DI DADAKU, HITAM TULANGKU, DAN BIRU DARAHKU
AYO INDONESIA !!
FORZA INTER !!

Selasa, 07 Mei 2013

Prediksi Final LCE : Bayern Munchen vs Borussia Dortmund

Pertandingan final Liga Champions Eropa 2013 yang akan dihelat di Stadion Wembley pada 26 Mei 2013 dinihari 02:45 WITA antara FC Bayern Munich vs Borussia Dortmund.

Yap, setelah dominasi Barcelona selama 4 musim terakhir LCE dan akhirnya roda pun berputar. Harapan banyak orang yang menginginkan duel El Classico (Barcelona vs Real Madrid) di final LCE musim ini pun pupus. Yang terjadi malah El Classico versi Jerman (Munchen vs Dortmund)La decima (gelar ke-10) dengan agregat 4-3. Sementara Munchen berhasil menghentikan dominasi Barcelona dengan agregat 7-0 yang merupakan rekor agregat terbesar semifinal sepanjang sejarah LCE.
. Ya, dua wakil Jerman ini sukses mengalahkan wakil Spanyol dan unggulan juara LCE musim ini. Dortmund mengandaskan impian Real Madrid untuk meraih

Setelah All Spanish Finals: Real Madrid vs Valencia (2000); All Italian Finals: AC Milan vs Juventus (2003); dan All England Finals: MU vs Chelsea (2008), tahun ini giliran para wakil Jerman yang berkuasa di final (All Germany finals).

Keberhasilan Dortmund merengkuh juara domestik dua kali beruntun langsung ditanggapi Munchen dengan membentuk tim yang lebih spektakuler. Masuknya Mario Mandzukic dan Javi Martinez di kubu Munchen menunjukkan keseriusan mereka untuk merusak dominasi tim asuhan Juergen Klopp. Terbukti musim ini Munchen menjuarai Bundesliga dengan raihan poin jauh di atas rivalnya. Selain itu, mereka juga berhasil menembus partai final Piala Liga. Dan asa mereka untuk meraih treble winner musim ini pun kian terbuka lebar.

Namun, bukan berarti Dortmund tanpa perlawanan. Dengan lolosnya mereka final LCE musim ini memberikan motivasi berlebih untuk memenangkan setidaknya satu trofi musim ini. Selain itu, anak asuhan Juergen Klopp juga ingin mempersembahkan gelar LCE kedua bagi klub, setelah terakhir kali di tahun 1997.

HEAD-TO-HEAD

Pelatih : Jupp Heynckes vs Juergen Klopp
Duel dua pelatih ini sangat seru dalam beberapa musim terakhir. Musim 2010-2011 dan 2011-2012 Klopp mendominasi Heynckes dengan tidak terkalahkan. namun di musim ini, 2012-2013, Heynckes berhasil mematahkan dominasi Dortmund atas Munchen.

Pemain Kunci
Duel sengit juga akan tersaji di atas lapangan. Di lini tengah kita akan melihat pertarungan antara Mario Gotze dengan Bastian Schweinsteiger sebagai pengatur permainan masing-masing tim. Duel lini depan tentunya akan sangat menarik antara Robert Lewandowski dengan Thomas Muller dan siapa yang akan mencetak gol kemenangan bagi timnya masing-masing.
Rekor Pertemuan
Dalam enam pertemuan terakhir kedua klub, terdapat hasil yang sama kuat. Di mana Munchen 2 kali menang, Dortmund 2 kali menang, dan 2 laga berakhir seri.

PREDIKSI

Bila dilihat dari 6 pertemuan terakhir, maka pertandingan akan berlangsung sengit dan hasil imbang 1-1 akan mewarnai pertandingan selama waktu normal 90 menit. Namun, bila dilihat dari sejarah dan fakta bahwa tim yang mengalahkan Barcelona di semifinal akan keluar sebagai juara.

Prediksi skor : Bayern Munchen (1 - 1)* Borussia Dortmund
*waktu normal 90 menit

Sejarah Liga Champions Eropa


Liga Champions adalah kejuaraan antarklub sepak bola tahunan antara klub-klub sepak bola tersukses di Eropa, dan sering dianggap sebagai trofi tingkat klub yang paling prestisius di Eropa.

Juara bertahan Liga Champions UEFA saat ini adalah Barcelona yang berhasil mengalahkan juara bertahan Manchester United 2-0.

Liga Champions berawal satu bulan setelah Kongres UEFA yang pertama kali yaitu di Wina, Austria tanggal 2 Maret 1955. Namun anehnya kejuaraan antar klub Eropa ini bukanlah inisiatif yang datang langsung dari UEFA.


Perancis sebagai pendiri
Banyak dari para pendiri UEFA yang lebih tertarik untuk membangun sebuah kompetisi yang diikuti tim sepakbola nasional mereka. Namun dari wartawan sebuah harian olahraga Prancis-lah, L-Equipe yaitu Gabriel Hanot dan rekannya Jacques Ferran yang mempunyai sebuah gagasan tentang sebuah sistem turnament yang diikuti oleh klub-klub Eropa.

Rekaman Pertandingan
Turnamen pertama kali yang diadakan tidak menetapkan tim yang berpartisipasi haruslah juara kompetisi di negara masing-masing melainkan tim yang diundang dengan fans atau pendukung tertinggi. Turnamen pertama kali diikuti oleh perwakilan 16 klub yang diundang pada tanggal 2 dan 3 April 1955, sekaligus telah disetujuinya sebuah aturan yang bulat tentang turnamen ini. Untuk pertama kali Turnament Kejuaraan antar Klub Eropa ( European Champions Clubs' Cup ) digelar di Lisbon mempertemukan Sporting Clube dari Portugal melawan FK Partizan dari Yugoslavia yang berkesudahan 3 - 3. Pada putaran kedua yang digelar di Belgrad, FK Partizan menang 5 - 2 yang memberikan keuntungan bagi mereka untuk melangkah ke babak selanjutnya.

Dominasi Real Madrid
Real Madrid seakan membuat turnament ini seperti milik mereka sendiri dengan memenangkan 5 (lima) final pertama berturut-turut. Sejak saat itu klub-klub lain juga melengkapi kesuksesan mereka dengan merebut gelar ini lebih dari satu kali seperti AFC Ajax dan FC Bayer Munchen yang telah memenangkan gelar ini tiga kali berturut-turut. Namun, tidak ada satu klub pun yang mampu mendominasi kejuaraan ini dalam waktu yang panjang. Ajax menunggu 22 tahun untuk melengkapi gelar keempat mereka yang diperoleh pada awal tahun 1970-an; Madrid memenangkan kembali gelar ini tahun 1998 setelah menunggu selama 32 tahun; dan Munchen memenangkan tendangan penalti pada partai final di Milan tahun 2001 untuk melengkapi gelar keempat mereka setelah menunggu selama 26 tahun.

Kesuksesan Liverpool
Liverpool FC memenangkan empat gelar ini dalam kurun waktu 1977 s/d 1984 dan pantas disebut sebagai klub asal Inggris yang paling sukses dalam ajang ini. Liverpool FC kembali bersinar pada Final 2005 ketika membalikkan keadaan setelah tertinggal 3 - 0 dari AC Milan dan kemudian memenangkan adu tendangan penalti 2 - 3.

Yang Berjaya
Real Madrid CF dan AC Milan adalah dua tim yang sukses merebut gelar sebanyak 3 ( tiga ) kali setelah kejuaraan ini berubah menjadi format kompetisi. Madrid juga tim yang paling sukses dengan menggondol 9 ( sembilan ) gelar secara keseluruhan, diikuti Milan dengan 7 ( tujuh ) gelar , Liverpool dengan 5 ( lima ) gelar dan 4 ( empat ) gelar masing-masing oleh Bayern dan Ajax. Madrid juga memegang rekor terbanyak tampil di final, yaitu 12 kali. Milan di tahun 2002/2003 meraih sukses setelah menjalani 19 pertandingan mulai dari babak 3 kualifikasi hingga ke final dengan mengalahkan tim satu negara Juventus lewat drama adu penalti.

Perubahan Format Kompetisi
Kejuaraan ini mengalami evolusi dengan perubahan yang mendasar di season 1992/1993 ketika Liga Champions Eropa menambah babak prelimenary untuk melengkapi menjadi 32 tim yang masuk babak pertama ( first round ) dengan memakai sistem knock out dan menyusut menjadi 16 tim di babak kedua ( second round )yang juga sama memakai sistem knock out, kemudian didapat 8 tim di babak ketiga ( third round )yang dibagi menjadi 2 group dengan sitem round robin yang tiap tim menjalani pertandingan setiap Selasa dan Rabu di seluruh Eropa.

Berikut pemegang trophy Liga Champions dari tahun ke tahun :
• 2012 - 2013 ????
• 2011 - 2012 Chelsea
• 2010 - 2011 FC Barcelona
• 2009 - 2010 FC Internazionale Milano
• 2008 - 2009 FC Barcelona
• 2007 - 2008 Manchester United FC
• 2006 - 2007 AC Milan
• 2005 - 2006 FC Barcelona
• 2004 - 2005 Liverpool FC
• 2003 - 2004 FC Porto
• 2002 - 2003 AC Milan
• 2001 - 2002 Real Madrid CF
• 2000 - 2001 FC Bayern München
• 1999 - 2000 Real Madrid CF
• 1998 - 1999 Manchester United FC
• 1997 - 1998 Real Madrid CF
• 1996 - 1997 BV Borussia Dortmund
• 1995 - 1996 Juventus
• 1994 - 1995 AFC Ajax
• 1992 - 1993 Olympique de Marseille
• 1991 - 1992 FC Barcelona
• 1990 - 1991 FK Crvena Zvezda
• 1989 - 1990 AC Milan
• 1988 - 1989 AC Milan
• 1987 - 1988 PSV Eindhoven
• 1986 - 1987 FC Porto
• 1985 - 1986 FC Steaua Bucureşti
• 1984 - 1985 Juventus
• 1983 - 1984 Liverpool FC
• 1982 - 1983 Hamburger SV
• 1981 - 1982 Aston Villa FC
• 1980 - 1981 Liverpool FC
• 1979 - 1980 Nottingham Forest FC
• 1978 - 1979 Nottingham Forest FC
• 1977 - 1978 Liverpool FC
• 1976 - 1977 Liverpool FC
• 1975 - 1976 FC Bayern München
• 1974 - 1975 FC Bayern München
• 1973 - 1974 FC Bayern München
• 1972 - 1973 AFC Ajax
• 1971 - 1972 AFC Ajax
• 1970 - 1971 AFC Ajax
• 1969 - 1970 Feyenoord
• 1968 - 1969 AC Milan
• 1967 - 1968 Manchester United FC
• 1966 - 1967 Celtic FC
• 1965 - 1966 Real Madrid CF
• 1964 - 1965 FC Internazionale Milano
• 1963 - 1964 FC Internazionale Milano
• 1962 - 1963 AC Milan
• 1961 - 1962 SL Benfica
• 1960 - 1961 SL Benfica
• 1959 - 1960 Real Madrid CF
• 1958 - 1959 Real Madrid CF
• 1957 - 1958 Real Madrid CF
• 1956 - 1957 Real Madrid CF
• 1955 - 1956 Real Madrid CF

Juara Terbanyak Liga Champions UEFA

9 - Real Madrid (Spanyol)
7 - AC Milan (Italia)
5 - Liverpool (Inggris)
4 - Ajax Amsterdam (Belanda), Bayern Muenchen (Jerman), Barcelona (Spanyol)
3 - Manchester United (Inggris), Internazionale Milano (Italia)
2 - Porto, Benfica (Portugal), Juventus (Italia), Nottingham Forest (Inggris)
1 - Aston Villa (Inggris), Glasgow Celtic (Skotlandia), Red Star Belgrad(Serbia), Borussia Dortmund, Hamburg SV (Jerman), Feyenoord, PSV Eindhoven (Belanda), Olympique Marseille (Prancis), Steaua Bucharest (Rumania)





Classic No. 9 vs False 9

Classic no. 9 atau biasa disebut penyerang tengah atau striker murni atau target-man yaitu suatu posisi dimana orang tersebut biasanya berada di dalam kotak pinalti lawan dan memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk menjadikan gol. False 9 adala kebalikan dari classic no. 9, dimana seorang dituntut untuk bisa bermain disemua posisi.

Di masa lalu, kita mungkin masih ingat dengan Pele, Ronaldo Luiz Nazario Da Lima, Ruud van Nistelrooy, Christian Vieri, Gabriel Batistuta, Filippo Inzaghi, Oliver Bierhoff, Fernando Morientes. Persamaan dari kedelapan nama tersebut: mereka adalah pemain depan tipe target man atau striker murni dalam tim-nya masing-masing dan tugas mereka hanya satu yakni berada di dalam kotak penalti lawan untuk memanfaatkan peluang sekecil apapun menjadi sebuah gol. 
Christian Vieri

Kita tentu masih ingat bagaimana mematikannya sundulan Bierhoff ketika ia mendapatkan crossing dari sisi lapangan, atau betapa mengerikannya finishing dan insting gol yang dimiliki Inzaghi saat ia mendapatkan peluang sekecil apapun. Kedua striker tersebut memiliki kemampuan positioning di atas rata-rata, sebuah kemampuan mutlak seorang 'pembunuh' kiper-kiper lawan.

Saya tidak mengatakan bahwa di zaman sepakbola modern seperti saat ini sudah tidak ada striker dengan tipe tersebut. Masih ada nama-nama seperti Didier Drogba [Galatasaray], Fernando Torres [Chelsea], Edin Dzeko [Manchester City], Gonzalo Higuain [Real Madrid], Edinson Cavani [Napoli], Radamel Falcao [Atletico Madrid], atau Zlatan Ibrahimovic [Paris Saint-Germain].

Namun filosofi sepakbola modern seakan melakukan 'seleksi alam' dan memaksa untuk merubah fungsi dan peran seorang striker dalam sebuah tim. Saat ini seorang striker bukanlah pemain yang bertugas untuk 'menunggu' di dalam kotak penalti namun juga diwajibkan untuk terus bergerak dan berlari menjemput bola. Jika para striker tersebut tidak mampu beradaptasi maka tinggal menunggu saja sampai waktu mulai menghapus nama-nama mereka dari lembaran sejarah sepakbola.

Hal ini pernah dialami oleh seorang Ibrahimovic ketika ia bermain untuk Barcelona beberapa tahun silam. Ia gagal menyesuaikan diri dengan permainan tiki-taka Barca yang menuntut mobilisasi tingkat tinggi yang menyebabkan ia gagal bersinar dan tersingkir dari barisan juru gedor Barcelona.


Atau kita bisa menengok kasus Fernando Torres di Chelsea saat ini. Bermain dengan garang di Atletico Madrid dan Liverpool sebagai seorang target man, Torres malah melempem dan menjadi pesakitan dalam skuad 'The Blues' ketika ia dituntut untuk lebih bergerak mengeksploitasi luas lapangan dalam skema permainan Chelsea. Tidak hanya kemandulan akut, namun Torres saat ini menjadi lelucon tersendiri dan seorang 'cheerleader' di pinggir lapangan untuk rekan-rekannya.

Tugas mencetak gol untuk sebuah tim telah berpindah tangan, fenomena yang sangat wajar terjadi dalam filosofi sepakbola modern. Lihat saja aksi Cristiano Ronaldo di Real Madrid, Lionel Messi di Barcelona, atau sepak terjang Gareth Bale akhir-akhir ini untuk Tottenham Hotspur. Mereka sejatinya bukanlah seorang striker murni, ketiga pemain tersebut mengawali karir sepakbola profesional sebagai seorang winger. Atau bagaimana Robin van Persie [Manchester United] dan Luis Suarez [Liverpool] menjadi mesin pencetak gol bagi klubnya masing-masing. Selain memiliki naluri untuk mencetak gol, mereka juga merupakan pemain yang 'tidak malas' dan 'tidak pernah bosan' untuk terus bergerak dan bermain dalam mobilitas tinggi.


Sepakbola modern pun akhirnya memunculkan fenomena di mana semakin banyaknya pemain non striker murni diplot mengisi lini terdepan dalam taktik permainan sebuah tim sepakbola. Para striker murni atau target man seakan tersingkir dan menjadi penghuni setia bangku cadangan di pinggir lapangan. Hal ini dilakukan agar tim tersebut dapat memainkan sepakbola dengan kecepatan dan mobilitas tinggi di mana pemain bisa bertukar posisi dan terus bergerak untuk mengeksploitasi setiap jengkal luas lapangan sehingga tim tersebut dapat memiliki banyak opsi untuk mencetak gol dan meraih kemenangan dalam sebuah pertandingan.

Meski begitu bukan berarti pemain bertipe target man benar-benar telah lenyap dari jagat sepakbola. Javier Hernandez adalah striker murni yang masih diandalkan oleh Manchester United dan timnas Meksiko, atau wonderkid seperti Stephan El Shaarawy yang sukses menjadi 'the next Inzaghi' untuk AC Milan dan timnas Italia. Begitu juga dengan Falcao dan Cavani di timnya masing-masing. Mereka paling tidak masih bisa berperan sebagai target man hingga saat ini dan bertahan dalam siklus 'seleksi alam' sepakbola modern. Tak jarang pula mereka menjadi pemecah kebuntuan saat tim mereka kesulitan untuk mencetak gol.

Terlepas dari semua itu, menurut saya sepakbola tetaplah simpel: passing, shooting, and goal!