Saat ini sedang ramai pemberitaan tentang klub-klub yang menunggak gaji pemain. Hal ini disebabkan sumber pendapatan klub yang minim, sedangkan pengeluaran klub justru sangat besar.
Di Indonesia sumber dana klub sepakbola hanya berasal dari dana pribadi pemilik, sponsor, tiket, dan merchandise. Dana yang berasal dari pemilik mungkin berlimpah dikarenakan mayoritas pemilik klub di Indonesia memiliki jabatan politik yang tinggi di daerah asal klub yang dimilikinya. Kalau gak gubernur, bupati, atau tokoh masyarakat yang mempunyai pengaruh politik yang besar di daerah asalnya. Jadi kalau pemiliknya udah gak jadi pejabat lagi, otomatis dana untuk klub juga pasti berkurang atau malah tidak memberi dana lagi.
Dana dari sponsor juga kurang memberikan kontribusi terhadap sebuah klub. Apalagi kalau klub tersebut adalah tim papan bawah dan tidak memiliki pemain bintang. Kadang sponsor hanya mau mendukung jika sebuah klub diperkuat oleh seorang pemain bintang yang sedang jadi perbincangan di negeri ini. So, nggak semua klub ditopang oleh sponsor yang memberikan dana berlimpah.
Pendapatan dari sektor penjualan tiket juga kurang berpengaruh besar terhadap keuangan sebuah klub. Hal ini dikarenakan tidak semua penjualan tiket itu masuk ke kas klub, tetapi harus dipotong untuk biaya sewa dan perawatan stadion itu sendiri. Dan juga karena mayoritas atau mungkin semua klub di Indonesia tidak memiliki stadion sendiri. Stadion-stadion tersebut merupakan milik pemerintah daerah setempat.
Merchandise. Unsur ini yang sangat kurang berpengaruh terhadap sumber pendapatan klub. Yaa, kita bisa maklum terhadap hal yang satu ini dikarenakan sifat masyarakat Indonesia yang memang suka melakukan pembajakan terhadap suatu produk. Mungkin hanya mereka yang merupakan fans sejati yang sangat mencintai klub nya yang mau membeli merchandise asli dari klub tersebut.
Nah, yang jadi pertanyaan adalah faktor apa yang mampu memberikan kontribusi yang maksimal untuk sebuah klub ??
Kalo menurut aku sih seharusnya semua klub sepakbola di Indonesia menerapkan kebijakan harga transfer atau harga jual pemain sehingga klub memperoleh pendapatan yang signifikan. Namun kebijakan ini akan malah akan jadi bumerang tersendiri apabila klub hanya melakukan pembelian pemain. Klub diharapkan melakukan pembinaan pemain usia dini sehingga klub mendapatkan harga transfer pemain yang lebih banyak. Jika kualitas pemain yang dihasilkan oleh akademi klub tersebut bagus tentunya klub akan mendapatkan keuntungan yang besar dari proses transfer itu.
Well, kita hanya bisa berharap semoga persepakbolaan Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan dan mengepakkan sayapnya hingga puncak tertinggi.
STOP POLITIK SEPAKBOLA !!
GARUDA DI DADAKU !!
Di Indonesia sumber dana klub sepakbola hanya berasal dari dana pribadi pemilik, sponsor, tiket, dan merchandise. Dana yang berasal dari pemilik mungkin berlimpah dikarenakan mayoritas pemilik klub di Indonesia memiliki jabatan politik yang tinggi di daerah asal klub yang dimilikinya. Kalau gak gubernur, bupati, atau tokoh masyarakat yang mempunyai pengaruh politik yang besar di daerah asalnya. Jadi kalau pemiliknya udah gak jadi pejabat lagi, otomatis dana untuk klub juga pasti berkurang atau malah tidak memberi dana lagi.
Dana dari sponsor juga kurang memberikan kontribusi terhadap sebuah klub. Apalagi kalau klub tersebut adalah tim papan bawah dan tidak memiliki pemain bintang. Kadang sponsor hanya mau mendukung jika sebuah klub diperkuat oleh seorang pemain bintang yang sedang jadi perbincangan di negeri ini. So, nggak semua klub ditopang oleh sponsor yang memberikan dana berlimpah.
Pendapatan dari sektor penjualan tiket juga kurang berpengaruh besar terhadap keuangan sebuah klub. Hal ini dikarenakan tidak semua penjualan tiket itu masuk ke kas klub, tetapi harus dipotong untuk biaya sewa dan perawatan stadion itu sendiri. Dan juga karena mayoritas atau mungkin semua klub di Indonesia tidak memiliki stadion sendiri. Stadion-stadion tersebut merupakan milik pemerintah daerah setempat.
Merchandise. Unsur ini yang sangat kurang berpengaruh terhadap sumber pendapatan klub. Yaa, kita bisa maklum terhadap hal yang satu ini dikarenakan sifat masyarakat Indonesia yang memang suka melakukan pembajakan terhadap suatu produk. Mungkin hanya mereka yang merupakan fans sejati yang sangat mencintai klub nya yang mau membeli merchandise asli dari klub tersebut.
Nah, yang jadi pertanyaan adalah faktor apa yang mampu memberikan kontribusi yang maksimal untuk sebuah klub ??
Kalo menurut aku sih seharusnya semua klub sepakbola di Indonesia menerapkan kebijakan harga transfer atau harga jual pemain sehingga klub memperoleh pendapatan yang signifikan. Namun kebijakan ini akan malah akan jadi bumerang tersendiri apabila klub hanya melakukan pembelian pemain. Klub diharapkan melakukan pembinaan pemain usia dini sehingga klub mendapatkan harga transfer pemain yang lebih banyak. Jika kualitas pemain yang dihasilkan oleh akademi klub tersebut bagus tentunya klub akan mendapatkan keuntungan yang besar dari proses transfer itu.
Well, kita hanya bisa berharap semoga persepakbolaan Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan dan mengepakkan sayapnya hingga puncak tertinggi.
STOP POLITIK SEPAKBOLA !!
GARUDA DI DADAKU !!