Selasa, 25 Juni 2013

Indonesia Lolos Ke Piala Dunia ??

Keriuhan Piala Konfederasi 2014 di Brazil saat ini tentunya sangat membuat hati pecinta sepakbola di Indonesia terasa miris. Mengapa ?? Karena salah satu pesertanya bisa di bilang dari negeri antah-berantah, Tahiti. Mereka lolos dengan status sebagai juara Oceania mengalahkan Selandia Baru yang notabene merupakan unggulan di zona Oceania. 

Tahiti dengan jumlah penduduk sekitar 200 ribu bisa berhadapan dengan tim-tim kuat dunia seperti Spanyol, Uruguay, dan Nigeria. Yaa walaupun mereka dipermalukan dengan skor-skor yang sangat telak. Namun setidaknya mereka bisa tampil di ajang internasional yang selama ini hanya bisa dimimpikan oleh pecinta sepakbola Indonesia.

Bandingkan dengan Indonesia yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 200 juta. Jangankan untuk tampil di ajang Piala Konfederasi atau Piala Dunia, di kawasan Asia Tenggara pun Indonesia nggak mampu berbuat banyak. Indonesia hanya mampu menang tapi untuk juara hanya sebatas mimpi. Thailand, Singapura, Malaysia, dan Vietnam merupakan tim-tim unggulan yang saat ini lebih kuat dari Timnas kita. Bahkan sekarang Filipina pun mampu untuk mengimbangi Indonesia. Di saat persepakbolaan tim-tim tetangga maju, sepakbola nasional justru hanya berjalan di tempat, kalo boleh di bilang sih mundur. 

Di Asia, lawan-lawan yang dihadapi tentunya lebih kuat lagi. Negara-negara Asia Timur macam Jepang, Cina, Korea Selatan,dan Korea Utara merupakan tim-tim yang bisa d bilang langganan Piala Dunia. Terus tim-tim Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Oman, Bahrain, dan UEA levelnya berada di atas Indonesia. Dan juga Australia yang jadi salah satu tim terkuat di Asia. Tentunya misi Indonesia untuk menjuarai Piala Asia atau bahkan untuk lolos ke Piala Dunia bisa dikatakan mustahil !

Nah terus bagaimana caranya supaya Indonesia bisa juara dan lolos ke Piala Dunia ??

Wacana yang kembali mengemuka saat ini yaitu Indonesia pindah zona konfederasi. Indonesia yang saat ini berada di zona Asia disarankan berpindah ke zona Oceania. Secara geografis itu sangat memungkinkan. Dan harapan untuk lolos ke Piala Dunia bisa terwujud jika melihat lawan yang ada di zona Oceania seperti Selandia Baru, Tahiti, dan Fiji yang kualitasnya hampir sama dengan Timnas kita. Juara Oceania hanya perlu menghadapi peringkat empat zona Concacaf -yang biasanya diperebutkan antara Honduras, Kosta Rika, dan Panama- untuk bisa lolos ke putaran Piala Dunia.

Bagi saya, wacana ini mempunyai sisi positif dan negatif. Positifnya, dengan Indonesia berpindah zona, maka dahaga juara yang selama ini di alami bisa terpuaskan dan impian untuk lolos ke Piala Dunia bukan hanya sekedar di film saja, namun juga bisa diwujudkan dengan nyata. Dan juga wacana ini lebih baik bila dibandingkan dengan kebijakan instan PSSI yang melakukan naturalisasi pemain keturunan yang kualitasnya bisa dibilang setara dengan pemain lokal.

Negatifnya, jika Indonesia berpindah zona, maka kualitas persepakbolaan negara kita tentunya akan menurun. Ibaratnya seperti seorang anak sekolah yang sulit untuk meraih juara di sekolah yang unggulan. Lantas dia pindah ke sekolah yang di daerah pinggiran dan meraih juara. Cita-cita juaranya tercapai, tapi kualitasnya kan nggak !

Kalau gitu sih MENDING JADI PECUNDANG DI KELAS KAKAP, DARIPADA JUARA DI KELAS TERI !!!

Lagian juga ngapain malu kalo timnas kita gak bisa juara, toh Indonesia juga udah nggak punya malu. Iya, malu. Indonesia mustinya malu karena dengan jumlah penduduk sekitar 200 juta, kok mau gitu meNATURALISASI pemain keturunan. Apa stok pemain berbakat sudah habis ?? Kalau negara seperti Singapura dan Filipina melakukan naturalisasi pemain, yaa wajar lah karena jumlah penduduk mereka kan sedikit. Thailand, Vietnam, dan Malaysia mereka bisa juara hanya dengan pemain lokalnya, namun dengan semangat patriotisme yang tinggi.

So, yang mestinya di lakukan PSSI bukan dengan cara melakukan naturalisasi pemain atau mung mungkin pindah zona konfederasi. Tapi, yang dengan cara pembinaan pemain usia dini yang berkelanjutan yang diharapkan bisa menghasilkan pemain yang berkualitas dan bisa berjangka panjang. Dan satu hal yang mungkin saat ini sudah pudar, yaitu semangat patriotisme. jika semangat patriotisme dan mental juara di gabungkan di dalam tim yang berkualitas, maka Sang Garuda akan menjadi Raja di Asia bahkan Dunia.

KEEP SUPPORT INDONESIA !!

Sabtu, 22 Juni 2013

Uang Lebih Penting Daripada Martabat Bangsa

Sekitar dua minggu yang lalu tepatnya 7 Juni 2013, negara tercinta kita Indonesia kedatangan tamu yang udah gak asing lagi, Holland. Yang datang ke Indonesia bukan ratu nya, namun timnas Belanda yang akan melakukan pertandingan persahabatan dengan Timnas Indonesia. Mungkin topik ini sedikit basi karena udah terjadi beberapa waktu yang lalu. Namun ada beberapa hal sepele yang sebenarnya sangat penting bagi bangsa ini.

Dalam pertandingan yang dihelat di stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), ada hal yang janggal yang menganggu pemandangan mata kita sebagai penonton. Saat itu Timnas Indonesia mengenakan kostum away nya yang berwarna putih. Sementara Timnas Belanda mengenakan kostum kebesarannya yang berwarna oranye. Dan kita semua juga tau hasil akhir pertandingan tersebut 0-3. Fakta di lapangan !!

Para pecinta sepakbola mengetahui peraturan internasional, bahwa tim tuan rumah berhak menentukan  kostum mana yang akan mereka gunakan. Baik itu sebagai klub atau tim nasionalnya. Dan tentunya untuk satu bangsa, sebagai tuan rumah, adalah suatu kebanggaan mengenakan kostum nasional, yang warnanya sesuai dengan bendera nasionalnya dan mencerminkan karakter bangsanya.Seluruh rakyat Indonesia tahu bahwa kostum nasional Indonesia berwarna merah. Dan pecinta sepakbola duniapun tahu bahwa kostum timnas Belanda warna oranye.

Promotor yang menyelenggarakan pertandingan antara Indonesia versus Belanda mengakui, bahwa dia membuat kesepakatan dengan Federasi Sepakbola Belanda (KNVB), di mana di menyetujui timnas Belanda mengenakan kostum kebesarannya yang berwarna oranye. Alasannya hanya semata-mata untuk tujuan komersial, yaitu mencari keuntungan. Promotor tersebut juga menyatakan, bahwa tindakannya telah dikonsultasikan dengan pengurus PSSI.

Secara kasat mata, Belanda lah yang jadi tuan rumah. Fakta di lapangan !!

Mungkin ini kelihatan sepele, hanya sebuah pertandingan sepakbola antara dua negara. Namun apabila ditinjau lebih dalam, ini adalah masalah yang sangat mendasar, masalah martabat bangsa. Kemudian, apabila diteliti lebih jauh lagi antara Indonesia dan Belanda, ini adalah masalah politik yang selama hampir 63 tahun tidak terselesaikan, sejak 17 agustus 1945, yaitu sejak dinyatakan merdekanya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masalahnya, hingga saat ini, pemerintah Belanda tetap tidak mau mengakui secara de jure kemerdekaan Republik Indonesia adalah 17 Agustus 1945. Bagi pemerintah Belanda, de jure kemerdekaan Indonesia adalah 27 Desember 1949, yaitu ketika dilakukan penyerahan kewenangan dari pemerintah Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia serikat (RIS), yang dipandang sebagai kelanjutan dari pemerintah Hindia-Belanda.

Merah-Putih adalah warna bendera nsional RI, dan juga warna kostum tim nasional sepakbola. Kelihatannya, Belanda bukan hanya tidak mau melihat bendera Merah-Putih, bahkan di lapangan sepakbola pun Belanda tidak mau melihat warna merah-putih. Dengan memakai kostum kebesarannya, secara simbolis Belanda menunjukkan bahwa ia masih tuan rumah di Indonesia.

Pengakuan promotor yang mengatakan alasannya menyetujui Belanda mengenakan kostum nasionalnya hanya semata-mata demi uang bukan hanya mengejutkan, namun juga mengerikan untuk bangsa Indonesia : Uang lebih penting daripada martabat bangsa !!

Sikap yang ditunjukkan promotor ini merupakan cerminan dari sikap banyak orang Indonesia pada saat ini, yaitu tidak peduli lagi terhadap martabat bangsa. Yang lebih memalukan lagi adalah, yang terlihat di lapangan sepakbola -untuk mereka yang mengetahui peraturan internasional sepakbola- bahwa bangsa ini tidak mempunyai martabat, hanya demi memperoleh uang !!

Sampai saat ini, pemerintah Belanda tetap tidak mau mengakui secara de jure kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Semua lembaga tinggi atau anggota lembaga tinggi negara ini mengethu hal ini : Pemerintah Republik Indonesia, Presiden, DPR, MPR, DPD RI, Mahkamah Konstitusi, demikian juga Legiun Veteran RI serta sejumlah Angkata '45, naun semua diam dan membirkan sikap Belanda, dan tidak satupun yang mempertanyakan hal ini.

Sangat aneh apabila ada dua negara yang menyataka hubungan diplomatik, namun negara yang satu tidak mengakui de jure negara yang lain. Pengakuan de jure adalah masalah martabat bangsa.

So, kekalahan Timnas Indonesia 0-3 dari Timnas Belanda, bukan hanya kekalahan di lapangan sepakbola, namun juga kekalahan politis dan kehilangan martabat bangsa !!!

Sumber Pendapatan Klub, Efektifkah ??

Saat ini sedang ramai pemberitaan tentang klub-klub yang menunggak gaji pemain. Hal ini disebabkan sumber pendapatan klub yang minim, sedangkan pengeluaran klub justru sangat besar.

Di Indonesia sumber dana klub sepakbola hanya berasal dari dana pribadi pemilik, sponsor, tiket, dan merchandise. Dana yang berasal dari pemilik mungkin berlimpah dikarenakan mayoritas pemilik klub di Indonesia memiliki jabatan politik yang tinggi di daerah asal klub yang dimilikinya. Kalau gak gubernur, bupati, atau tokoh masyarakat yang mempunyai pengaruh politik yang besar di daerah asalnya. Jadi kalau pemiliknya udah gak jadi pejabat lagi, otomatis dana untuk klub juga pasti berkurang atau malah tidak memberi dana lagi.

Dana dari sponsor juga kurang memberikan kontribusi terhadap sebuah klub. Apalagi kalau klub tersebut adalah tim papan bawah dan tidak memiliki pemain bintang. Kadang sponsor hanya mau mendukung jika sebuah klub diperkuat oleh seorang pemain bintang yang sedang jadi perbincangan di negeri ini. So, nggak semua klub ditopang oleh sponsor yang memberikan dana berlimpah.

Pendapatan dari sektor penjualan tiket juga kurang berpengaruh besar terhadap keuangan sebuah klub. Hal ini dikarenakan tidak semua penjualan tiket itu masuk ke kas klub, tetapi harus dipotong untuk biaya sewa dan perawatan stadion itu sendiri. Dan juga karena mayoritas atau mungkin semua klub di Indonesia tidak memiliki stadion sendiri. Stadion-stadion tersebut merupakan milik pemerintah daerah setempat.

Merchandise. Unsur ini yang sangat kurang berpengaruh terhadap sumber pendapatan klub. Yaa, kita bisa maklum terhadap hal yang satu ini dikarenakan sifat masyarakat Indonesia yang memang suka melakukan pembajakan terhadap suatu produk. Mungkin hanya mereka yang merupakan fans sejati yang sangat mencintai klub nya yang mau membeli merchandise asli dari klub tersebut.

Nah, yang jadi pertanyaan adalah faktor apa yang mampu memberikan kontribusi yang maksimal untuk sebuah klub ??

Kalo menurut aku sih seharusnya semua klub sepakbola di Indonesia menerapkan kebijakan harga transfer atau harga jual pemain sehingga klub memperoleh pendapatan yang signifikan. Namun kebijakan ini akan malah akan jadi bumerang tersendiri apabila klub hanya melakukan pembelian pemain. Klub diharapkan melakukan pembinaan pemain usia dini sehingga klub mendapatkan harga transfer pemain yang lebih banyak. Jika kualitas pemain yang dihasilkan oleh akademi klub tersebut bagus tentunya klub akan mendapatkan keuntungan yang besar dari proses transfer itu.

Well, kita hanya bisa berharap semoga persepakbolaan Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan dan mengepakkan sayapnya hingga puncak tertinggi.

STOP POLITIK SEPAKBOLA !!
GARUDA DI DADAKU !!