Selasa, 07 Mei 2013

Classic No. 9 vs False 9

Classic no. 9 atau biasa disebut penyerang tengah atau striker murni atau target-man yaitu suatu posisi dimana orang tersebut biasanya berada di dalam kotak pinalti lawan dan memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk menjadikan gol. False 9 adala kebalikan dari classic no. 9, dimana seorang dituntut untuk bisa bermain disemua posisi.

Di masa lalu, kita mungkin masih ingat dengan Pele, Ronaldo Luiz Nazario Da Lima, Ruud van Nistelrooy, Christian Vieri, Gabriel Batistuta, Filippo Inzaghi, Oliver Bierhoff, Fernando Morientes. Persamaan dari kedelapan nama tersebut: mereka adalah pemain depan tipe target man atau striker murni dalam tim-nya masing-masing dan tugas mereka hanya satu yakni berada di dalam kotak penalti lawan untuk memanfaatkan peluang sekecil apapun menjadi sebuah gol. 
Christian Vieri

Kita tentu masih ingat bagaimana mematikannya sundulan Bierhoff ketika ia mendapatkan crossing dari sisi lapangan, atau betapa mengerikannya finishing dan insting gol yang dimiliki Inzaghi saat ia mendapatkan peluang sekecil apapun. Kedua striker tersebut memiliki kemampuan positioning di atas rata-rata, sebuah kemampuan mutlak seorang 'pembunuh' kiper-kiper lawan.

Saya tidak mengatakan bahwa di zaman sepakbola modern seperti saat ini sudah tidak ada striker dengan tipe tersebut. Masih ada nama-nama seperti Didier Drogba [Galatasaray], Fernando Torres [Chelsea], Edin Dzeko [Manchester City], Gonzalo Higuain [Real Madrid], Edinson Cavani [Napoli], Radamel Falcao [Atletico Madrid], atau Zlatan Ibrahimovic [Paris Saint-Germain].

Namun filosofi sepakbola modern seakan melakukan 'seleksi alam' dan memaksa untuk merubah fungsi dan peran seorang striker dalam sebuah tim. Saat ini seorang striker bukanlah pemain yang bertugas untuk 'menunggu' di dalam kotak penalti namun juga diwajibkan untuk terus bergerak dan berlari menjemput bola. Jika para striker tersebut tidak mampu beradaptasi maka tinggal menunggu saja sampai waktu mulai menghapus nama-nama mereka dari lembaran sejarah sepakbola.

Hal ini pernah dialami oleh seorang Ibrahimovic ketika ia bermain untuk Barcelona beberapa tahun silam. Ia gagal menyesuaikan diri dengan permainan tiki-taka Barca yang menuntut mobilisasi tingkat tinggi yang menyebabkan ia gagal bersinar dan tersingkir dari barisan juru gedor Barcelona.


Atau kita bisa menengok kasus Fernando Torres di Chelsea saat ini. Bermain dengan garang di Atletico Madrid dan Liverpool sebagai seorang target man, Torres malah melempem dan menjadi pesakitan dalam skuad 'The Blues' ketika ia dituntut untuk lebih bergerak mengeksploitasi luas lapangan dalam skema permainan Chelsea. Tidak hanya kemandulan akut, namun Torres saat ini menjadi lelucon tersendiri dan seorang 'cheerleader' di pinggir lapangan untuk rekan-rekannya.

Tugas mencetak gol untuk sebuah tim telah berpindah tangan, fenomena yang sangat wajar terjadi dalam filosofi sepakbola modern. Lihat saja aksi Cristiano Ronaldo di Real Madrid, Lionel Messi di Barcelona, atau sepak terjang Gareth Bale akhir-akhir ini untuk Tottenham Hotspur. Mereka sejatinya bukanlah seorang striker murni, ketiga pemain tersebut mengawali karir sepakbola profesional sebagai seorang winger. Atau bagaimana Robin van Persie [Manchester United] dan Luis Suarez [Liverpool] menjadi mesin pencetak gol bagi klubnya masing-masing. Selain memiliki naluri untuk mencetak gol, mereka juga merupakan pemain yang 'tidak malas' dan 'tidak pernah bosan' untuk terus bergerak dan bermain dalam mobilitas tinggi.


Sepakbola modern pun akhirnya memunculkan fenomena di mana semakin banyaknya pemain non striker murni diplot mengisi lini terdepan dalam taktik permainan sebuah tim sepakbola. Para striker murni atau target man seakan tersingkir dan menjadi penghuni setia bangku cadangan di pinggir lapangan. Hal ini dilakukan agar tim tersebut dapat memainkan sepakbola dengan kecepatan dan mobilitas tinggi di mana pemain bisa bertukar posisi dan terus bergerak untuk mengeksploitasi setiap jengkal luas lapangan sehingga tim tersebut dapat memiliki banyak opsi untuk mencetak gol dan meraih kemenangan dalam sebuah pertandingan.

Meski begitu bukan berarti pemain bertipe target man benar-benar telah lenyap dari jagat sepakbola. Javier Hernandez adalah striker murni yang masih diandalkan oleh Manchester United dan timnas Meksiko, atau wonderkid seperti Stephan El Shaarawy yang sukses menjadi 'the next Inzaghi' untuk AC Milan dan timnas Italia. Begitu juga dengan Falcao dan Cavani di timnya masing-masing. Mereka paling tidak masih bisa berperan sebagai target man hingga saat ini dan bertahan dalam siklus 'seleksi alam' sepakbola modern. Tak jarang pula mereka menjadi pemecah kebuntuan saat tim mereka kesulitan untuk mencetak gol.

Terlepas dari semua itu, menurut saya sepakbola tetaplah simpel: passing, shooting, and goal!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar