Ya, saat ini sepakbola sudah mulai teracuni oleh dunia politik. Sepakbola sudah seperti ladang "kampanye" baru bagi para poli"tikus". Mereka (para "tikus-tikus") lebih mementingkan kepentingan pribadi/golongannya sendiri dan menghalalkan semua yang berbau haram.
Mungkin kita, para pecinta sepakbola, khususnya di Indonesia, pasti lelah dengan segala konflik yang ada persepakbolaan Indonesia. Beberapa tahun yang lalu, induk sepakbola nasional PSSI, juga terjangkit "virus" yang bernama politik. Pada masa kepemimpinan NH, walaupun prestasi timnas kita lumayan membanggakan, tapi di balik itu semua ada sebuah kasus yang menjerat pemimpinnya. KORUPSI !
Setelah lengsernya NH, maka terpilih JAH. Namun, bukannya prestasi yang diraih melainkan "menciptakan" konflik baru. Ibarat pepatah, "Habis gelap era NH, Terbitlah Suram era JAH". Yap, masalah yang satu selesai, timbul masalah lain. Cobaan memang gak ada habisnya broo.. . Kali ini malah lebih parah. Yang "haram" menjadi "halal" dan yang "halal" menjadi "haram". Kayak MUI aja. Belum lagi konflik internal di tubuh organisasi PSSI. Kubu yang satu berlindung atas "statuta", yang satu lagi berdalih atas "suara" dan "dukungan" pecinta sepakbola Indonesia.
Nah, yang jadi pertanyaan, emang bener ya "statuta" harus ada keberpihakan atas satu kubu ?? Apa bener "suara" dan "dukungan" para pecandu sepakbola Tanah Air menginginkan adanya perpecahan ???
Sepakbola Indonesia ini memang unik, sedikit konyol dan mungkin hanya terjadi di negara kita sendiri, Indonesia. Setelah adanya "rujuk" kembali di pucuk kepemimpinan PSSI, ehh sekarang giliran anggotanya yang ngambek. Unik kan ??
Selain itu, klub-klub yang memiliki dualisme di liga tidak disertakan dalam penyatuan liga. Klub-klub tersebut kemudian melakukan protes dan banding terhadap keputusan PSSI. Mereka protes dengan dalih keberpihakkan dan ketidak adanya keadilan. Anehnya, mereka sendiri yang memisahkan atau men"dualisme"kan liga, ehh malah mereka yang protes. Konyol ?? Dan ini hanya ada di Indonesia.
Kita masih ingat dengan peristiwa kerusuhan supporter sepakbola di Mesir yang menelan banyak korban. Ibarat pepatah "Tak mungkin ada asap kalau tak ada kompornya". Disinyalir kerusuhan antara dua supporter tersebut karena masing-masing kelompok supporter tersebut beraliran politik yang berseberangan.
Selain di Mesir, masalah serupa juga pernah menimpa persepakbolaan Negeri Pizza, Italia. Di mana pada saat itu era 60'an FIGC (PSSI-nya Italia) dipimpin oleh Agnelli yang merupakan presiden dari klub Juventus. Banyak keputusan-keputusan FIGC yang lebih berpihak pada klub asal kota Turin tersebut. Contoh yang nyata yaitu pada tahun 1961, saat Juventus menjamu rival abadinya FC Internazionale Milano. Pertandingan tersebut kemudian dihentikan oleh wasit dikarenakan para pendukung Juve menerobos masuk hingga ke pinggir lapangan, dan secara otomatis Inter dinyatakan menang. Namun, pihak Juve melakukan banding atas keputusan wasit. Karena FIGC pada waktu itu dipimpin oleh presiden klub Juve sendiri, maka banding Juve pun diterima, sehingga dilakukan pertandingan ulang. Kubu Inter melakukan protes dengan menurunkan tim Primaveranya saat berhadapan dengan Juve di partai ulang. Hasilnya pun bisa di tebak, Inter Primavera kalah telak.
Yaa, mungkin dari beberapa peristiwa di atas, kita hanya bisa berharap:
"Semoga persepakbolaan Indonesia dan dunia tidak terjangkit politi, dan mungkin yang lebih penting lagi sebaiknya orang yang memimpin induk organisasi sepakbola adalah ORANG yang MENGERTI sepakbola, PAHAM sepakbola, dan CINTA terhadap sepakbola"
GARUDA DI DADAKU, HITAM TULANGKU, DAN BIRU DARAHKU
AYO INDONESIA !!
FORZA INTER !!