Minggu, 22 September 2013 merupakan hari yang akan diingat dan bersejarah bagi bangsa ini. Kenapa ??? Setelah menunggu selama 22 tahun, akhirnya Timnas Garuda berhasil membuka keran prestasi yang selama ini macet. Bukan orang dewasa, melainkan sekelempok ABG. Yap, Timnas U-19 berhasil menuntaskan dahaga juara masyarakat pecandu sepakbola di Tanah Air. Mereka menjuarai AFF Cup U-19.
Perjuangan para Garuda Muda ini tentu sangat berat. Di penyisihan grup mereka tergabung dalam grup neraka bersama Vietnam, Thailand, Malaysia, Myanmar, dan Brunei. Menang atas Myanmar, Thailand, dan Brunei namun kalah saat melawan Vietnam dan bermain seri pada pertandingan hidup mati yang penuh gengsi melawan Malaysia membuat Garuda Muda berhasil lolos ke semifinal sebagai runner-up grup di bawah Vietnam, dan akan berhadapan dengan saudara tiri Timor Leste.
Namun Timor Leste bukanlah lawan sepadan bagi Timnas U-19 kita. Mereka mampu menang meyakinkan dengan skor 2-0 dan melaju ke final dan kembali berhadapan dengan Vietnam. Dengan dukungan langsung puluhan ribu supporter Indonesia yang memenuhi setiap penjuru di Stadion Delta Sidoarjo, dan jutaan penonton yang menyaksikan lewat layar kaca tentunya memberikan semangat yang lebih berkobar bagi Garuda Muda. Setelah 2 x 45 menit di tambah 2 x 15 menit belum juga ada pemenang, maka di lanjutkan dengan adu penalti. Hampir semua pecinta sepakbola lebih memilih menonton Timnas di bandingkan Derby Manchester yang saat itu juga tengah berlangsung. Adu penalti itu berkesudahan dengan skor 7 - 6 untuk kemenangan Timnas U-19.
Dari keberhasilan Timnas U-19 menjuarai AFF U-19 ini, ada hal yang menarik bagi gue. Apa itu ??? Kasih tau gak yah ?? hahaha.... Oke, gue kasih tau. Dari 20 ABG yang terdaftar di skuad Garuda Muda kemarin, tidak ada satu pun pemain naturalisasi. Semuanya merupakan orang asli Indonesia yang lahir di Indonesia, tumbuh dan berkembang di Indonesia, dan dari keturunan asli Indonesia. Bahkan sang allenatore juga asli Indonesia.
Hal ini tentu berbeda dengan senior-senior mereka. Di Timnas U-23 ada nama Diego Michels yang menurut gue kualitas nya nggak lebih baik ketimbang pemain lokal. Bahkan di level timnas senior ada banyak nama pemain naturalisasi yaitu Victor Igbonefo, Greg Nwokolo, Raphael Maitimo, Sergio van Dijk, dan yang terbaru ada Stefano Lilipali. Itupun belum termasuk pemain-pemain naturalisasi yang tidak di panggil lagi ke Timnas. Nah, yang jadi pertanyaan apakah mereka sudah memberikan gelar juara bagi Indonesia ??? Belum sama sekali !!! Bukannya naturalisasi itu cara instan untuk meraih prestasi ??? Itu kan kalau pemain yang dinaturalisasi seperti Ronaldo, Messi, Bale, atau se'nggaknya yaa seperti Radja Nainggolan. Kalau yang ada ini kan pemain dari antah-berantah. Hahaha....
Well, sudah saatnya para pengurus PSSI meninggalkan paham naturalisme. Toh selama ini juga belum ada hasilnya. Lebih baik memikirkan bagaimana caranya memupuk bibit-bibit muda yang penuh harapan ini menjadi lebih baik dan berpestasi bagi bangsa ini ke depannya. Masih banyak bibit-bibit asli yang lebih unggul ketimbang pemain naturalisasi.
SAY NO TO NATURALISM !!!
Sabtu, 28 September 2013
Selasa, 25 Juni 2013
Indonesia Lolos Ke Piala Dunia ??
Keriuhan Piala Konfederasi 2014 di Brazil saat ini tentunya sangat membuat hati pecinta sepakbola di Indonesia terasa miris. Mengapa ?? Karena salah satu pesertanya bisa di bilang dari negeri antah-berantah, Tahiti. Mereka lolos dengan status sebagai juara Oceania mengalahkan Selandia Baru yang notabene merupakan unggulan di zona Oceania.
Tahiti dengan jumlah penduduk sekitar 200 ribu bisa berhadapan dengan tim-tim kuat dunia seperti Spanyol, Uruguay, dan Nigeria. Yaa walaupun mereka dipermalukan dengan skor-skor yang sangat telak. Namun setidaknya mereka bisa tampil di ajang internasional yang selama ini hanya bisa dimimpikan oleh pecinta sepakbola Indonesia.
Bandingkan dengan Indonesia yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 200 juta. Jangankan untuk tampil di ajang Piala Konfederasi atau Piala Dunia, di kawasan Asia Tenggara pun Indonesia nggak mampu berbuat banyak. Indonesia hanya mampu menang tapi untuk juara hanya sebatas mimpi. Thailand, Singapura, Malaysia, dan Vietnam merupakan tim-tim unggulan yang saat ini lebih kuat dari Timnas kita. Bahkan sekarang Filipina pun mampu untuk mengimbangi Indonesia. Di saat persepakbolaan tim-tim tetangga maju, sepakbola nasional justru hanya berjalan di tempat, kalo boleh di bilang sih mundur.
Di Asia, lawan-lawan yang dihadapi tentunya lebih kuat lagi. Negara-negara Asia Timur macam Jepang, Cina, Korea Selatan,dan Korea Utara merupakan tim-tim yang bisa d bilang langganan Piala Dunia. Terus tim-tim Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Oman, Bahrain, dan UEA levelnya berada di atas Indonesia. Dan juga Australia yang jadi salah satu tim terkuat di Asia. Tentunya misi Indonesia untuk menjuarai Piala Asia atau bahkan untuk lolos ke Piala Dunia bisa dikatakan mustahil !
Nah terus bagaimana caranya supaya Indonesia bisa juara dan lolos ke Piala Dunia ??
Wacana yang kembali mengemuka saat ini yaitu Indonesia pindah zona konfederasi. Indonesia yang saat ini berada di zona Asia disarankan berpindah ke zona Oceania. Secara geografis itu sangat memungkinkan. Dan harapan untuk lolos ke Piala Dunia bisa terwujud jika melihat lawan yang ada di zona Oceania seperti Selandia Baru, Tahiti, dan Fiji yang kualitasnya hampir sama dengan Timnas kita. Juara Oceania hanya perlu menghadapi peringkat empat zona Concacaf -yang biasanya diperebutkan antara Honduras, Kosta Rika, dan Panama- untuk bisa lolos ke putaran Piala Dunia.
Bagi saya, wacana ini mempunyai sisi positif dan negatif. Positifnya, dengan Indonesia berpindah zona, maka dahaga juara yang selama ini di alami bisa terpuaskan dan impian untuk lolos ke Piala Dunia bukan hanya sekedar di film saja, namun juga bisa diwujudkan dengan nyata. Dan juga wacana ini lebih baik bila dibandingkan dengan kebijakan instan PSSI yang melakukan naturalisasi pemain keturunan yang kualitasnya bisa dibilang setara dengan pemain lokal.
Negatifnya, jika Indonesia berpindah zona, maka kualitas persepakbolaan negara kita tentunya akan menurun. Ibaratnya seperti seorang anak sekolah yang sulit untuk meraih juara di sekolah yang unggulan. Lantas dia pindah ke sekolah yang di daerah pinggiran dan meraih juara. Cita-cita juaranya tercapai, tapi kualitasnya kan nggak !
Kalau gitu sih MENDING JADI PECUNDANG DI KELAS KAKAP, DARIPADA JUARA DI KELAS TERI !!!
Lagian juga ngapain malu kalo timnas kita gak bisa juara, toh Indonesia juga udah nggak punya malu. Iya, malu. Indonesia mustinya malu karena dengan jumlah penduduk sekitar 200 juta, kok mau gitu meNATURALISASI pemain keturunan. Apa stok pemain berbakat sudah habis ?? Kalau negara seperti Singapura dan Filipina melakukan naturalisasi pemain, yaa wajar lah karena jumlah penduduk mereka kan sedikit. Thailand, Vietnam, dan Malaysia mereka bisa juara hanya dengan pemain lokalnya, namun dengan semangat patriotisme yang tinggi.
So, yang mestinya di lakukan PSSI bukan dengan cara melakukan naturalisasi pemain atau mung mungkin pindah zona konfederasi. Tapi, yang dengan cara pembinaan pemain usia dini yang berkelanjutan yang diharapkan bisa menghasilkan pemain yang berkualitas dan bisa berjangka panjang. Dan satu hal yang mungkin saat ini sudah pudar, yaitu semangat patriotisme. jika semangat patriotisme dan mental juara di gabungkan di dalam tim yang berkualitas, maka Sang Garuda akan menjadi Raja di Asia bahkan Dunia.
KEEP SUPPORT INDONESIA !!
Sabtu, 22 Juni 2013
Uang Lebih Penting Daripada Martabat Bangsa
Sekitar dua minggu yang lalu tepatnya 7 Juni 2013, negara tercinta kita Indonesia kedatangan tamu yang udah gak asing lagi, Holland. Yang datang ke Indonesia bukan ratu nya, namun timnas Belanda yang akan melakukan pertandingan persahabatan dengan Timnas Indonesia. Mungkin topik ini sedikit basi karena udah terjadi beberapa waktu yang lalu. Namun ada beberapa hal sepele yang sebenarnya sangat penting bagi bangsa ini.
Dalam pertandingan yang dihelat di stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), ada hal yang janggal yang menganggu pemandangan mata kita sebagai penonton. Saat itu Timnas Indonesia mengenakan kostum away nya yang berwarna putih. Sementara Timnas Belanda mengenakan kostum kebesarannya yang berwarna oranye. Dan kita semua juga tau hasil akhir pertandingan tersebut 0-3. Fakta di lapangan !!
Para pecinta sepakbola mengetahui peraturan internasional, bahwa tim tuan rumah berhak menentukan kostum mana yang akan mereka gunakan. Baik itu sebagai klub atau tim nasionalnya. Dan tentunya untuk satu bangsa, sebagai tuan rumah, adalah suatu kebanggaan mengenakan kostum nasional, yang warnanya sesuai dengan bendera nasionalnya dan mencerminkan karakter bangsanya.Seluruh rakyat Indonesia tahu bahwa kostum nasional Indonesia berwarna merah. Dan pecinta sepakbola duniapun tahu bahwa kostum timnas Belanda warna oranye.
Promotor yang menyelenggarakan pertandingan antara Indonesia versus Belanda mengakui, bahwa dia membuat kesepakatan dengan Federasi Sepakbola Belanda (KNVB), di mana di menyetujui timnas Belanda mengenakan kostum kebesarannya yang berwarna oranye. Alasannya hanya semata-mata untuk tujuan komersial, yaitu mencari keuntungan. Promotor tersebut juga menyatakan, bahwa tindakannya telah dikonsultasikan dengan pengurus PSSI.
Secara kasat mata, Belanda lah yang jadi tuan rumah. Fakta di lapangan !!
Mungkin ini kelihatan sepele, hanya sebuah pertandingan sepakbola antara dua negara. Namun apabila ditinjau lebih dalam, ini adalah masalah yang sangat mendasar, masalah martabat bangsa. Kemudian, apabila diteliti lebih jauh lagi antara Indonesia dan Belanda, ini adalah masalah politik yang selama hampir 63 tahun tidak terselesaikan, sejak 17 agustus 1945, yaitu sejak dinyatakan merdekanya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Masalahnya, hingga saat ini, pemerintah Belanda tetap tidak mau mengakui secara de jure kemerdekaan Republik Indonesia adalah 17 Agustus 1945. Bagi pemerintah Belanda, de jure kemerdekaan Indonesia adalah 27 Desember 1949, yaitu ketika dilakukan penyerahan kewenangan dari pemerintah Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia serikat (RIS), yang dipandang sebagai kelanjutan dari pemerintah Hindia-Belanda.
Merah-Putih adalah warna bendera nsional RI, dan juga warna kostum tim nasional sepakbola. Kelihatannya, Belanda bukan hanya tidak mau melihat bendera Merah-Putih, bahkan di lapangan sepakbola pun Belanda tidak mau melihat warna merah-putih. Dengan memakai kostum kebesarannya, secara simbolis Belanda menunjukkan bahwa ia masih tuan rumah di Indonesia.
Pengakuan promotor yang mengatakan alasannya menyetujui Belanda mengenakan kostum nasionalnya hanya semata-mata demi uang bukan hanya mengejutkan, namun juga mengerikan untuk bangsa Indonesia : Uang lebih penting daripada martabat bangsa !!
Sikap yang ditunjukkan promotor ini merupakan cerminan dari sikap banyak orang Indonesia pada saat ini, yaitu tidak peduli lagi terhadap martabat bangsa. Yang lebih memalukan lagi adalah, yang terlihat di lapangan sepakbola -untuk mereka yang mengetahui peraturan internasional sepakbola- bahwa bangsa ini tidak mempunyai martabat, hanya demi memperoleh uang !!
Sampai saat ini, pemerintah Belanda tetap tidak mau mengakui secara de jure kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Semua lembaga tinggi atau anggota lembaga tinggi negara ini mengethu hal ini : Pemerintah Republik Indonesia, Presiden, DPR, MPR, DPD RI, Mahkamah Konstitusi, demikian juga Legiun Veteran RI serta sejumlah Angkata '45, naun semua diam dan membirkan sikap Belanda, dan tidak satupun yang mempertanyakan hal ini.
Sangat aneh apabila ada dua negara yang menyataka hubungan diplomatik, namun negara yang satu tidak mengakui de jure negara yang lain. Pengakuan de jure adalah masalah martabat bangsa.
So, kekalahan Timnas Indonesia 0-3 dari Timnas Belanda, bukan hanya kekalahan di lapangan sepakbola, namun juga kekalahan politis dan kehilangan martabat bangsa !!!
Sumber Pendapatan Klub, Efektifkah ??
Saat ini sedang ramai pemberitaan tentang klub-klub yang menunggak gaji pemain. Hal ini disebabkan sumber pendapatan klub yang minim, sedangkan pengeluaran klub justru sangat besar.
Di Indonesia sumber dana klub sepakbola hanya berasal dari dana pribadi pemilik, sponsor, tiket, dan merchandise. Dana yang berasal dari pemilik mungkin berlimpah dikarenakan mayoritas pemilik klub di Indonesia memiliki jabatan politik yang tinggi di daerah asal klub yang dimilikinya. Kalau gak gubernur, bupati, atau tokoh masyarakat yang mempunyai pengaruh politik yang besar di daerah asalnya. Jadi kalau pemiliknya udah gak jadi pejabat lagi, otomatis dana untuk klub juga pasti berkurang atau malah tidak memberi dana lagi.
Dana dari sponsor juga kurang memberikan kontribusi terhadap sebuah klub. Apalagi kalau klub tersebut adalah tim papan bawah dan tidak memiliki pemain bintang. Kadang sponsor hanya mau mendukung jika sebuah klub diperkuat oleh seorang pemain bintang yang sedang jadi perbincangan di negeri ini. So, nggak semua klub ditopang oleh sponsor yang memberikan dana berlimpah.
Pendapatan dari sektor penjualan tiket juga kurang berpengaruh besar terhadap keuangan sebuah klub. Hal ini dikarenakan tidak semua penjualan tiket itu masuk ke kas klub, tetapi harus dipotong untuk biaya sewa dan perawatan stadion itu sendiri. Dan juga karena mayoritas atau mungkin semua klub di Indonesia tidak memiliki stadion sendiri. Stadion-stadion tersebut merupakan milik pemerintah daerah setempat.
Merchandise. Unsur ini yang sangat kurang berpengaruh terhadap sumber pendapatan klub. Yaa, kita bisa maklum terhadap hal yang satu ini dikarenakan sifat masyarakat Indonesia yang memang suka melakukan pembajakan terhadap suatu produk. Mungkin hanya mereka yang merupakan fans sejati yang sangat mencintai klub nya yang mau membeli merchandise asli dari klub tersebut.
Nah, yang jadi pertanyaan adalah faktor apa yang mampu memberikan kontribusi yang maksimal untuk sebuah klub ??
Kalo menurut aku sih seharusnya semua klub sepakbola di Indonesia menerapkan kebijakan harga transfer atau harga jual pemain sehingga klub memperoleh pendapatan yang signifikan. Namun kebijakan ini akan malah akan jadi bumerang tersendiri apabila klub hanya melakukan pembelian pemain. Klub diharapkan melakukan pembinaan pemain usia dini sehingga klub mendapatkan harga transfer pemain yang lebih banyak. Jika kualitas pemain yang dihasilkan oleh akademi klub tersebut bagus tentunya klub akan mendapatkan keuntungan yang besar dari proses transfer itu.
Well, kita hanya bisa berharap semoga persepakbolaan Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan dan mengepakkan sayapnya hingga puncak tertinggi.
STOP POLITIK SEPAKBOLA !!
GARUDA DI DADAKU !!
Di Indonesia sumber dana klub sepakbola hanya berasal dari dana pribadi pemilik, sponsor, tiket, dan merchandise. Dana yang berasal dari pemilik mungkin berlimpah dikarenakan mayoritas pemilik klub di Indonesia memiliki jabatan politik yang tinggi di daerah asal klub yang dimilikinya. Kalau gak gubernur, bupati, atau tokoh masyarakat yang mempunyai pengaruh politik yang besar di daerah asalnya. Jadi kalau pemiliknya udah gak jadi pejabat lagi, otomatis dana untuk klub juga pasti berkurang atau malah tidak memberi dana lagi.
Dana dari sponsor juga kurang memberikan kontribusi terhadap sebuah klub. Apalagi kalau klub tersebut adalah tim papan bawah dan tidak memiliki pemain bintang. Kadang sponsor hanya mau mendukung jika sebuah klub diperkuat oleh seorang pemain bintang yang sedang jadi perbincangan di negeri ini. So, nggak semua klub ditopang oleh sponsor yang memberikan dana berlimpah.
Pendapatan dari sektor penjualan tiket juga kurang berpengaruh besar terhadap keuangan sebuah klub. Hal ini dikarenakan tidak semua penjualan tiket itu masuk ke kas klub, tetapi harus dipotong untuk biaya sewa dan perawatan stadion itu sendiri. Dan juga karena mayoritas atau mungkin semua klub di Indonesia tidak memiliki stadion sendiri. Stadion-stadion tersebut merupakan milik pemerintah daerah setempat.
Merchandise. Unsur ini yang sangat kurang berpengaruh terhadap sumber pendapatan klub. Yaa, kita bisa maklum terhadap hal yang satu ini dikarenakan sifat masyarakat Indonesia yang memang suka melakukan pembajakan terhadap suatu produk. Mungkin hanya mereka yang merupakan fans sejati yang sangat mencintai klub nya yang mau membeli merchandise asli dari klub tersebut.
Nah, yang jadi pertanyaan adalah faktor apa yang mampu memberikan kontribusi yang maksimal untuk sebuah klub ??
Kalo menurut aku sih seharusnya semua klub sepakbola di Indonesia menerapkan kebijakan harga transfer atau harga jual pemain sehingga klub memperoleh pendapatan yang signifikan. Namun kebijakan ini akan malah akan jadi bumerang tersendiri apabila klub hanya melakukan pembelian pemain. Klub diharapkan melakukan pembinaan pemain usia dini sehingga klub mendapatkan harga transfer pemain yang lebih banyak. Jika kualitas pemain yang dihasilkan oleh akademi klub tersebut bagus tentunya klub akan mendapatkan keuntungan yang besar dari proses transfer itu.
Well, kita hanya bisa berharap semoga persepakbolaan Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan dan mengepakkan sayapnya hingga puncak tertinggi.
STOP POLITIK SEPAKBOLA !!
GARUDA DI DADAKU !!
Rabu, 08 Mei 2013
Sepakbola Dan "Politik"
Ya, saat ini sepakbola sudah mulai teracuni oleh dunia politik. Sepakbola sudah seperti ladang "kampanye" baru bagi para poli"tikus". Mereka (para "tikus-tikus") lebih mementingkan kepentingan pribadi/golongannya sendiri dan menghalalkan semua yang berbau haram.
Mungkin kita, para pecinta sepakbola, khususnya di Indonesia, pasti lelah dengan segala konflik yang ada persepakbolaan Indonesia. Beberapa tahun yang lalu, induk sepakbola nasional PSSI, juga terjangkit "virus" yang bernama politik. Pada masa kepemimpinan NH, walaupun prestasi timnas kita lumayan membanggakan, tapi di balik itu semua ada sebuah kasus yang menjerat pemimpinnya. KORUPSI !
Setelah lengsernya NH, maka terpilih JAH. Namun, bukannya prestasi yang diraih melainkan "menciptakan" konflik baru. Ibarat pepatah, "Habis gelap era NH, Terbitlah Suram era JAH". Yap, masalah yang satu selesai, timbul masalah lain. Cobaan memang gak ada habisnya broo.. . Kali ini malah lebih parah. Yang "haram" menjadi "halal" dan yang "halal" menjadi "haram". Kayak MUI aja. Belum lagi konflik internal di tubuh organisasi PSSI. Kubu yang satu berlindung atas "statuta", yang satu lagi berdalih atas "suara" dan "dukungan" pecinta sepakbola Indonesia.
Nah, yang jadi pertanyaan, emang bener ya "statuta" harus ada keberpihakan atas satu kubu ?? Apa bener "suara" dan "dukungan" para pecandu sepakbola Tanah Air menginginkan adanya perpecahan ???
Sepakbola Indonesia ini memang unik, sedikit konyol dan mungkin hanya terjadi di negara kita sendiri, Indonesia. Setelah adanya "rujuk" kembali di pucuk kepemimpinan PSSI, ehh sekarang giliran anggotanya yang ngambek. Unik kan ??
Selain itu, klub-klub yang memiliki dualisme di liga tidak disertakan dalam penyatuan liga. Klub-klub tersebut kemudian melakukan protes dan banding terhadap keputusan PSSI. Mereka protes dengan dalih keberpihakkan dan ketidak adanya keadilan. Anehnya, mereka sendiri yang memisahkan atau men"dualisme"kan liga, ehh malah mereka yang protes. Konyol ?? Dan ini hanya ada di Indonesia.
Kita masih ingat dengan peristiwa kerusuhan supporter sepakbola di Mesir yang menelan banyak korban. Ibarat pepatah "Tak mungkin ada asap kalau tak ada kompornya". Disinyalir kerusuhan antara dua supporter tersebut karena masing-masing kelompok supporter tersebut beraliran politik yang berseberangan.
Selain di Mesir, masalah serupa juga pernah menimpa persepakbolaan Negeri Pizza, Italia. Di mana pada saat itu era 60'an FIGC (PSSI-nya Italia) dipimpin oleh Agnelli yang merupakan presiden dari klub Juventus. Banyak keputusan-keputusan FIGC yang lebih berpihak pada klub asal kota Turin tersebut. Contoh yang nyata yaitu pada tahun 1961, saat Juventus menjamu rival abadinya FC Internazionale Milano. Pertandingan tersebut kemudian dihentikan oleh wasit dikarenakan para pendukung Juve menerobos masuk hingga ke pinggir lapangan, dan secara otomatis Inter dinyatakan menang. Namun, pihak Juve melakukan banding atas keputusan wasit. Karena FIGC pada waktu itu dipimpin oleh presiden klub Juve sendiri, maka banding Juve pun diterima, sehingga dilakukan pertandingan ulang. Kubu Inter melakukan protes dengan menurunkan tim Primaveranya saat berhadapan dengan Juve di partai ulang. Hasilnya pun bisa di tebak, Inter Primavera kalah telak.
Yaa, mungkin dari beberapa peristiwa di atas, kita hanya bisa berharap:
"Semoga persepakbolaan Indonesia dan dunia tidak terjangkit politi, dan mungkin yang lebih penting lagi sebaiknya orang yang memimpin induk organisasi sepakbola adalah ORANG yang MENGERTI sepakbola, PAHAM sepakbola, dan CINTA terhadap sepakbola"
GARUDA DI DADAKU, HITAM TULANGKU, DAN BIRU DARAHKU
AYO INDONESIA !!
FORZA INTER !!
Selasa, 07 Mei 2013
Prediksi Final LCE : Bayern Munchen vs Borussia Dortmund
Pertandingan final Liga Champions Eropa 2013 yang akan dihelat di Stadion Wembley pada 26 Mei 2013 dinihari 02:45 WITA antara FC Bayern Munich vs Borussia Dortmund.
Yap, setelah dominasi Barcelona selama 4 musim terakhir LCE dan akhirnya roda pun berputar. Harapan banyak orang yang menginginkan duel El Classico (Barcelona vs Real Madrid) di final LCE musim ini pun pupus. Yang terjadi malah El Classico versi Jerman (Munchen vs Dortmund)La decima (gelar ke-10) dengan agregat 4-3. Sementara Munchen berhasil menghentikan dominasi Barcelona dengan agregat 7-0 yang merupakan rekor agregat terbesar semifinal sepanjang sejarah LCE.
. Ya, dua wakil Jerman ini sukses mengalahkan wakil Spanyol dan unggulan juara LCE musim ini. Dortmund mengandaskan impian Real Madrid untuk meraih
Setelah All Spanish Finals: Real Madrid vs Valencia (2000); All Italian Finals: AC Milan vs Juventus (2003); dan All England Finals: MU vs Chelsea (2008), tahun ini giliran para wakil Jerman yang berkuasa di final (All Germany finals).
Keberhasilan Dortmund merengkuh juara domestik dua kali beruntun langsung ditanggapi Munchen dengan membentuk tim yang lebih spektakuler. Masuknya Mario Mandzukic dan Javi Martinez di kubu Munchen menunjukkan keseriusan mereka untuk merusak dominasi tim asuhan Juergen Klopp. Terbukti musim ini Munchen menjuarai Bundesliga dengan raihan poin jauh di atas rivalnya. Selain itu, mereka juga berhasil menembus partai final Piala Liga. Dan asa mereka untuk meraih treble winner musim ini pun kian terbuka lebar.
Namun, bukan berarti Dortmund tanpa perlawanan. Dengan lolosnya mereka final LCE musim ini memberikan motivasi berlebih untuk memenangkan setidaknya satu trofi musim ini. Selain itu, anak asuhan Juergen Klopp juga ingin mempersembahkan gelar LCE kedua bagi klub, setelah terakhir kali di tahun 1997.
HEAD-TO-HEAD
Pelatih : Jupp Heynckes vs Juergen Klopp
Duel dua pelatih ini sangat seru dalam beberapa musim terakhir. Musim 2010-2011 dan 2011-2012 Klopp mendominasi Heynckes dengan tidak terkalahkan. namun di musim ini, 2012-2013, Heynckes berhasil mematahkan dominasi Dortmund atas Munchen.
Pemain Kunci
Duel sengit juga akan tersaji di atas lapangan. Di lini tengah kita akan melihat pertarungan antara Mario Gotze dengan Bastian Schweinsteiger sebagai pengatur permainan masing-masing tim. Duel lini depan tentunya akan sangat menarik antara Robert Lewandowski dengan Thomas Muller dan siapa yang akan mencetak gol kemenangan bagi timnya masing-masing.
Rekor Pertemuan
Dalam enam pertemuan terakhir kedua klub, terdapat hasil yang sama kuat. Di mana Munchen 2 kali menang, Dortmund 2 kali menang, dan 2 laga berakhir seri.
PREDIKSI
Bila dilihat dari 6 pertemuan terakhir, maka pertandingan akan berlangsung sengit dan hasil imbang 1-1 akan mewarnai pertandingan selama waktu normal 90 menit. Namun, bila dilihat dari sejarah dan fakta bahwa tim yang mengalahkan Barcelona di semifinal akan keluar sebagai juara.
Prediksi skor : Bayern Munchen (1 - 1)* Borussia Dortmund
*waktu normal 90 menit
Yap, setelah dominasi Barcelona selama 4 musim terakhir LCE dan akhirnya roda pun berputar. Harapan banyak orang yang menginginkan duel El Classico (Barcelona vs Real Madrid) di final LCE musim ini pun pupus. Yang terjadi malah El Classico versi Jerman (Munchen vs Dortmund)La decima (gelar ke-10) dengan agregat 4-3. Sementara Munchen berhasil menghentikan dominasi Barcelona dengan agregat 7-0 yang merupakan rekor agregat terbesar semifinal sepanjang sejarah LCE.
. Ya, dua wakil Jerman ini sukses mengalahkan wakil Spanyol dan unggulan juara LCE musim ini. Dortmund mengandaskan impian Real Madrid untuk meraih
Setelah All Spanish Finals: Real Madrid vs Valencia (2000); All Italian Finals: AC Milan vs Juventus (2003); dan All England Finals: MU vs Chelsea (2008), tahun ini giliran para wakil Jerman yang berkuasa di final (All Germany finals).
Keberhasilan Dortmund merengkuh juara domestik dua kali beruntun langsung ditanggapi Munchen dengan membentuk tim yang lebih spektakuler. Masuknya Mario Mandzukic dan Javi Martinez di kubu Munchen menunjukkan keseriusan mereka untuk merusak dominasi tim asuhan Juergen Klopp. Terbukti musim ini Munchen menjuarai Bundesliga dengan raihan poin jauh di atas rivalnya. Selain itu, mereka juga berhasil menembus partai final Piala Liga. Dan asa mereka untuk meraih treble winner musim ini pun kian terbuka lebar.
Namun, bukan berarti Dortmund tanpa perlawanan. Dengan lolosnya mereka final LCE musim ini memberikan motivasi berlebih untuk memenangkan setidaknya satu trofi musim ini. Selain itu, anak asuhan Juergen Klopp juga ingin mempersembahkan gelar LCE kedua bagi klub, setelah terakhir kali di tahun 1997.
HEAD-TO-HEAD
Pelatih : Jupp Heynckes vs Juergen Klopp
Duel dua pelatih ini sangat seru dalam beberapa musim terakhir. Musim 2010-2011 dan 2011-2012 Klopp mendominasi Heynckes dengan tidak terkalahkan. namun di musim ini, 2012-2013, Heynckes berhasil mematahkan dominasi Dortmund atas Munchen.
Pemain Kunci
Duel sengit juga akan tersaji di atas lapangan. Di lini tengah kita akan melihat pertarungan antara Mario Gotze dengan Bastian Schweinsteiger sebagai pengatur permainan masing-masing tim. Duel lini depan tentunya akan sangat menarik antara Robert Lewandowski dengan Thomas Muller dan siapa yang akan mencetak gol kemenangan bagi timnya masing-masing.
Rekor Pertemuan
Dalam enam pertemuan terakhir kedua klub, terdapat hasil yang sama kuat. Di mana Munchen 2 kali menang, Dortmund 2 kali menang, dan 2 laga berakhir seri.
PREDIKSI
Bila dilihat dari 6 pertemuan terakhir, maka pertandingan akan berlangsung sengit dan hasil imbang 1-1 akan mewarnai pertandingan selama waktu normal 90 menit. Namun, bila dilihat dari sejarah dan fakta bahwa tim yang mengalahkan Barcelona di semifinal akan keluar sebagai juara.
Prediksi skor : Bayern Munchen (1 - 1)* Borussia Dortmund
*waktu normal 90 menit
Sejarah Liga Champions Eropa
Liga Champions adalah kejuaraan antarklub sepak bola tahunan antara klub-klub sepak bola tersukses di Eropa, dan sering dianggap sebagai trofi tingkat klub yang paling prestisius di Eropa.
Juara bertahan Liga Champions UEFA saat ini adalah Barcelona yang berhasil mengalahkan juara bertahan Manchester United 2-0.
Liga Champions berawal satu bulan setelah Kongres UEFA yang pertama kali yaitu di Wina, Austria tanggal 2 Maret 1955. Namun anehnya kejuaraan antar klub Eropa ini bukanlah inisiatif yang datang langsung dari UEFA.
Perancis sebagai pendiri
Banyak dari para pendiri UEFA yang lebih tertarik untuk membangun sebuah kompetisi yang diikuti tim sepakbola nasional mereka. Namun dari wartawan sebuah harian olahraga Prancis-lah, L-Equipe yaitu Gabriel Hanot dan rekannya Jacques Ferran yang mempunyai sebuah gagasan tentang sebuah sistem turnament yang diikuti oleh klub-klub Eropa.
Rekaman Pertandingan
Turnamen pertama kali yang diadakan tidak menetapkan tim yang berpartisipasi haruslah juara kompetisi di negara masing-masing melainkan tim yang diundang dengan fans atau pendukung tertinggi. Turnamen pertama kali diikuti oleh perwakilan 16 klub yang diundang pada tanggal 2 dan 3 April 1955, sekaligus telah disetujuinya sebuah aturan yang bulat tentang turnamen ini. Untuk pertama kali Turnament Kejuaraan antar Klub Eropa ( European Champions Clubs' Cup ) digelar di Lisbon mempertemukan Sporting Clube dari Portugal melawan FK Partizan dari Yugoslavia yang berkesudahan 3 - 3. Pada putaran kedua yang digelar di Belgrad, FK Partizan menang 5 - 2 yang memberikan keuntungan bagi mereka untuk melangkah ke babak selanjutnya.
Dominasi Real Madrid
Real Madrid seakan membuat turnament ini seperti milik mereka sendiri dengan memenangkan 5 (lima) final pertama berturut-turut. Sejak saat itu klub-klub lain juga melengkapi kesuksesan mereka dengan merebut gelar ini lebih dari satu kali seperti AFC Ajax dan FC Bayer Munchen yang telah memenangkan gelar ini tiga kali berturut-turut. Namun, tidak ada satu klub pun yang mampu mendominasi kejuaraan ini dalam waktu yang panjang. Ajax menunggu 22 tahun untuk melengkapi gelar keempat mereka yang diperoleh pada awal tahun 1970-an; Madrid memenangkan kembali gelar ini tahun 1998 setelah menunggu selama 32 tahun; dan Munchen memenangkan tendangan penalti pada partai final di Milan tahun 2001 untuk melengkapi gelar keempat mereka setelah menunggu selama 26 tahun.
Kesuksesan Liverpool
Liverpool FC memenangkan empat gelar ini dalam kurun waktu 1977 s/d 1984 dan pantas disebut sebagai klub asal Inggris yang paling sukses dalam ajang ini. Liverpool FC kembali bersinar pada Final 2005 ketika membalikkan keadaan setelah tertinggal 3 - 0 dari AC Milan dan kemudian memenangkan adu tendangan penalti 2 - 3.
Yang Berjaya
Real Madrid CF dan AC Milan adalah dua tim yang sukses merebut gelar sebanyak 3 ( tiga ) kali setelah kejuaraan ini berubah menjadi format kompetisi. Madrid juga tim yang paling sukses dengan menggondol 9 ( sembilan ) gelar secara keseluruhan, diikuti Milan dengan 7 ( tujuh ) gelar , Liverpool dengan 5 ( lima ) gelar dan 4 ( empat ) gelar masing-masing oleh Bayern dan Ajax. Madrid juga memegang rekor terbanyak tampil di final, yaitu 12 kali. Milan di tahun 2002/2003 meraih sukses setelah menjalani 19 pertandingan mulai dari babak 3 kualifikasi hingga ke final dengan mengalahkan tim satu negara Juventus lewat drama adu penalti.
Perubahan Format Kompetisi
Kejuaraan ini mengalami evolusi dengan perubahan yang mendasar di season 1992/1993 ketika Liga Champions Eropa menambah babak prelimenary untuk melengkapi menjadi 32 tim yang masuk babak pertama ( first round ) dengan memakai sistem knock out dan menyusut menjadi 16 tim di babak kedua ( second round )yang juga sama memakai sistem knock out, kemudian didapat 8 tim di babak ketiga ( third round )yang dibagi menjadi 2 group dengan sitem round robin yang tiap tim menjalani pertandingan setiap Selasa dan Rabu di seluruh Eropa.
Berikut pemegang trophy Liga Champions dari tahun ke tahun :
Juara bertahan Liga Champions UEFA saat ini adalah Barcelona yang berhasil mengalahkan juara bertahan Manchester United 2-0.
Liga Champions berawal satu bulan setelah Kongres UEFA yang pertama kali yaitu di Wina, Austria tanggal 2 Maret 1955. Namun anehnya kejuaraan antar klub Eropa ini bukanlah inisiatif yang datang langsung dari UEFA.
Perancis sebagai pendiri
Banyak dari para pendiri UEFA yang lebih tertarik untuk membangun sebuah kompetisi yang diikuti tim sepakbola nasional mereka. Namun dari wartawan sebuah harian olahraga Prancis-lah, L-Equipe yaitu Gabriel Hanot dan rekannya Jacques Ferran yang mempunyai sebuah gagasan tentang sebuah sistem turnament yang diikuti oleh klub-klub Eropa.
Rekaman Pertandingan
Turnamen pertama kali yang diadakan tidak menetapkan tim yang berpartisipasi haruslah juara kompetisi di negara masing-masing melainkan tim yang diundang dengan fans atau pendukung tertinggi. Turnamen pertama kali diikuti oleh perwakilan 16 klub yang diundang pada tanggal 2 dan 3 April 1955, sekaligus telah disetujuinya sebuah aturan yang bulat tentang turnamen ini. Untuk pertama kali Turnament Kejuaraan antar Klub Eropa ( European Champions Clubs' Cup ) digelar di Lisbon mempertemukan Sporting Clube dari Portugal melawan FK Partizan dari Yugoslavia yang berkesudahan 3 - 3. Pada putaran kedua yang digelar di Belgrad, FK Partizan menang 5 - 2 yang memberikan keuntungan bagi mereka untuk melangkah ke babak selanjutnya.
Dominasi Real Madrid
Real Madrid seakan membuat turnament ini seperti milik mereka sendiri dengan memenangkan 5 (lima) final pertama berturut-turut. Sejak saat itu klub-klub lain juga melengkapi kesuksesan mereka dengan merebut gelar ini lebih dari satu kali seperti AFC Ajax dan FC Bayer Munchen yang telah memenangkan gelar ini tiga kali berturut-turut. Namun, tidak ada satu klub pun yang mampu mendominasi kejuaraan ini dalam waktu yang panjang. Ajax menunggu 22 tahun untuk melengkapi gelar keempat mereka yang diperoleh pada awal tahun 1970-an; Madrid memenangkan kembali gelar ini tahun 1998 setelah menunggu selama 32 tahun; dan Munchen memenangkan tendangan penalti pada partai final di Milan tahun 2001 untuk melengkapi gelar keempat mereka setelah menunggu selama 26 tahun.
Kesuksesan Liverpool
Liverpool FC memenangkan empat gelar ini dalam kurun waktu 1977 s/d 1984 dan pantas disebut sebagai klub asal Inggris yang paling sukses dalam ajang ini. Liverpool FC kembali bersinar pada Final 2005 ketika membalikkan keadaan setelah tertinggal 3 - 0 dari AC Milan dan kemudian memenangkan adu tendangan penalti 2 - 3.
Yang Berjaya
Real Madrid CF dan AC Milan adalah dua tim yang sukses merebut gelar sebanyak 3 ( tiga ) kali setelah kejuaraan ini berubah menjadi format kompetisi. Madrid juga tim yang paling sukses dengan menggondol 9 ( sembilan ) gelar secara keseluruhan, diikuti Milan dengan 7 ( tujuh ) gelar , Liverpool dengan 5 ( lima ) gelar dan 4 ( empat ) gelar masing-masing oleh Bayern dan Ajax. Madrid juga memegang rekor terbanyak tampil di final, yaitu 12 kali. Milan di tahun 2002/2003 meraih sukses setelah menjalani 19 pertandingan mulai dari babak 3 kualifikasi hingga ke final dengan mengalahkan tim satu negara Juventus lewat drama adu penalti.
Perubahan Format Kompetisi
Kejuaraan ini mengalami evolusi dengan perubahan yang mendasar di season 1992/1993 ketika Liga Champions Eropa menambah babak prelimenary untuk melengkapi menjadi 32 tim yang masuk babak pertama ( first round ) dengan memakai sistem knock out dan menyusut menjadi 16 tim di babak kedua ( second round )yang juga sama memakai sistem knock out, kemudian didapat 8 tim di babak ketiga ( third round )yang dibagi menjadi 2 group dengan sitem round robin yang tiap tim menjalani pertandingan setiap Selasa dan Rabu di seluruh Eropa.
Berikut pemegang trophy Liga Champions dari tahun ke tahun :
• 2012 - 2013 ????
• 2011 - 2012 Chelsea
• 2010 - 2011 FC Barcelona
• 2009 - 2010 FC Internazionale Milano
• 2008 - 2009 FC Barcelona
• 2007 - 2008 Manchester United FC
• 2006 - 2007 AC Milan
• 2005 - 2006 FC Barcelona
• 2004 - 2005 Liverpool FC
• 2003 - 2004 FC Porto
• 2002 - 2003 AC Milan
• 2001 - 2002 Real Madrid CF
• 2000 - 2001 FC Bayern München
• 1999 - 2000 Real Madrid CF
• 1998 - 1999 Manchester United FC
• 1997 - 1998 Real Madrid CF
• 1996 - 1997 BV Borussia Dortmund
• 1995 - 1996 Juventus
• 1994 - 1995 AFC Ajax
• 1992 - 1993 Olympique de Marseille
• 1991 - 1992 FC Barcelona
• 1990 - 1991 FK Crvena Zvezda
• 1989 - 1990 AC Milan
• 1988 - 1989 AC Milan
• 1987 - 1988 PSV Eindhoven
• 1986 - 1987 FC Porto
• 1985 - 1986 FC Steaua Bucureşti
• 1984 - 1985 Juventus
• 1983 - 1984 Liverpool FC
• 1982 - 1983 Hamburger SV
• 1981 - 1982 Aston Villa FC
• 1980 - 1981 Liverpool FC
• 1979 - 1980 Nottingham Forest FC
• 1978 - 1979 Nottingham Forest FC
• 1977 - 1978 Liverpool FC
• 1976 - 1977 Liverpool FC
• 1975 - 1976 FC Bayern München
• 1974 - 1975 FC Bayern München
• 1973 - 1974 FC Bayern München
• 1972 - 1973 AFC Ajax
• 1971 - 1972 AFC Ajax
• 1970 - 1971 AFC Ajax
• 1969 - 1970 Feyenoord
• 1968 - 1969 AC Milan
• 1967 - 1968 Manchester United FC
• 1966 - 1967 Celtic FC
• 1965 - 1966 Real Madrid CF
• 1964 - 1965 FC Internazionale Milano
• 1963 - 1964 FC Internazionale Milano
• 1962 - 1963 AC Milan
• 1961 - 1962 SL Benfica
• 1960 - 1961 SL Benfica
• 1959 - 1960 Real Madrid CF
• 1958 - 1959 Real Madrid CF
• 1957 - 1958 Real Madrid CF
• 1956 - 1957 Real Madrid CF
• 1955 - 1956 Real Madrid CF
Juara Terbanyak Liga Champions UEFA
9 - Real Madrid (Spanyol)
7 - AC Milan (Italia)
5 - Liverpool (Inggris)
4 - Ajax Amsterdam (Belanda), Bayern Muenchen (Jerman), Barcelona (Spanyol)
3 - Manchester United (Inggris), Internazionale Milano (Italia)
2 - Porto, Benfica (Portugal), Juventus (Italia), Nottingham Forest (Inggris)
1 - Aston Villa (Inggris), Glasgow Celtic (Skotlandia), Red Star Belgrad(Serbia), Borussia Dortmund, Hamburg SV (Jerman), Feyenoord, PSV Eindhoven (Belanda), Olympique Marseille (Prancis), Steaua Bucharest (Rumania)
• 2010 - 2011 FC Barcelona
• 2009 - 2010 FC Internazionale Milano
• 2008 - 2009 FC Barcelona
• 2007 - 2008 Manchester United FC
• 2006 - 2007 AC Milan
• 2005 - 2006 FC Barcelona
• 2004 - 2005 Liverpool FC
• 2003 - 2004 FC Porto
• 2002 - 2003 AC Milan
• 2001 - 2002 Real Madrid CF
• 2000 - 2001 FC Bayern München
• 1999 - 2000 Real Madrid CF
• 1998 - 1999 Manchester United FC
• 1997 - 1998 Real Madrid CF
• 1996 - 1997 BV Borussia Dortmund
• 1995 - 1996 Juventus
• 1994 - 1995 AFC Ajax
• 1992 - 1993 Olympique de Marseille
• 1991 - 1992 FC Barcelona
• 1990 - 1991 FK Crvena Zvezda
• 1989 - 1990 AC Milan
• 1988 - 1989 AC Milan
• 1987 - 1988 PSV Eindhoven
• 1986 - 1987 FC Porto
• 1985 - 1986 FC Steaua Bucureşti
• 1984 - 1985 Juventus
• 1983 - 1984 Liverpool FC
• 1982 - 1983 Hamburger SV
• 1981 - 1982 Aston Villa FC
• 1980 - 1981 Liverpool FC
• 1979 - 1980 Nottingham Forest FC
• 1978 - 1979 Nottingham Forest FC
• 1977 - 1978 Liverpool FC
• 1976 - 1977 Liverpool FC
• 1975 - 1976 FC Bayern München
• 1974 - 1975 FC Bayern München
• 1973 - 1974 FC Bayern München
• 1972 - 1973 AFC Ajax
• 1971 - 1972 AFC Ajax
• 1970 - 1971 AFC Ajax
• 1969 - 1970 Feyenoord
• 1968 - 1969 AC Milan
• 1967 - 1968 Manchester United FC
• 1966 - 1967 Celtic FC
• 1965 - 1966 Real Madrid CF
• 1964 - 1965 FC Internazionale Milano
• 1963 - 1964 FC Internazionale Milano
• 1962 - 1963 AC Milan
• 1961 - 1962 SL Benfica
• 1960 - 1961 SL Benfica
• 1959 - 1960 Real Madrid CF
• 1958 - 1959 Real Madrid CF
• 1957 - 1958 Real Madrid CF
• 1956 - 1957 Real Madrid CF
• 1955 - 1956 Real Madrid CF
Juara Terbanyak Liga Champions UEFA
9 - Real Madrid (Spanyol)
7 - AC Milan (Italia)
5 - Liverpool (Inggris)
4 - Ajax Amsterdam (Belanda), Bayern Muenchen (Jerman), Barcelona (Spanyol)
3 - Manchester United (Inggris), Internazionale Milano (Italia)
2 - Porto, Benfica (Portugal), Juventus (Italia), Nottingham Forest (Inggris)
1 - Aston Villa (Inggris), Glasgow Celtic (Skotlandia), Red Star Belgrad(Serbia), Borussia Dortmund, Hamburg SV (Jerman), Feyenoord, PSV Eindhoven (Belanda), Olympique Marseille (Prancis), Steaua Bucharest (Rumania)
Classic No. 9 vs False 9
Classic no. 9 atau biasa disebut penyerang tengah atau striker murni atau target-man yaitu suatu posisi dimana orang tersebut biasanya berada di dalam kotak pinalti lawan dan memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk menjadikan gol. False 9 adala kebalikan dari classic no. 9, dimana seorang dituntut untuk bisa bermain disemua posisi.
Di masa lalu, kita mungkin masih ingat dengan Pele, Ronaldo Luiz Nazario Da Lima, Ruud van Nistelrooy, Christian Vieri, Gabriel Batistuta, Filippo Inzaghi, Oliver Bierhoff, Fernando Morientes. Persamaan dari kedelapan nama tersebut: mereka adalah pemain depan tipe target man atau striker murni dalam tim-nya masing-masing dan tugas mereka hanya satu yakni berada di dalam kotak penalti lawan untuk memanfaatkan peluang sekecil apapun menjadi sebuah gol.
Kita tentu masih ingat bagaimana mematikannya sundulan Bierhoff ketika ia mendapatkan crossing dari sisi lapangan, atau betapa mengerikannya finishing dan insting gol yang dimiliki Inzaghi saat ia mendapatkan peluang sekecil apapun. Kedua striker tersebut memiliki kemampuan positioning di atas rata-rata, sebuah kemampuan mutlak seorang 'pembunuh' kiper-kiper lawan.
Saya tidak mengatakan bahwa di zaman sepakbola modern seperti saat ini sudah tidak ada striker dengan tipe tersebut. Masih ada nama-nama seperti Didier Drogba [Galatasaray], Fernando Torres [Chelsea], Edin Dzeko [Manchester City], Gonzalo Higuain [Real Madrid], Edinson Cavani [Napoli], Radamel Falcao [Atletico Madrid], atau Zlatan Ibrahimovic [Paris Saint-Germain].
Namun filosofi sepakbola modern seakan melakukan 'seleksi alam' dan memaksa untuk merubah fungsi dan peran seorang striker dalam sebuah tim. Saat ini seorang striker bukanlah pemain yang bertugas untuk 'menunggu' di dalam kotak penalti namun juga diwajibkan untuk terus bergerak dan berlari menjemput bola. Jika para striker tersebut tidak mampu beradaptasi maka tinggal menunggu saja sampai waktu mulai menghapus nama-nama mereka dari lembaran sejarah sepakbola.
Hal ini pernah dialami oleh seorang Ibrahimovic ketika ia bermain untuk Barcelona beberapa tahun silam. Ia gagal menyesuaikan diri dengan permainan tiki-taka Barca yang menuntut mobilisasi tingkat tinggi yang menyebabkan ia gagal bersinar dan tersingkir dari barisan juru gedor Barcelona.
Atau kita bisa menengok kasus Fernando Torres di Chelsea saat ini. Bermain dengan garang di Atletico Madrid dan Liverpool sebagai seorang target man, Torres malah melempem dan menjadi pesakitan dalam skuad 'The Blues' ketika ia dituntut untuk lebih bergerak mengeksploitasi luas lapangan dalam skema permainan Chelsea. Tidak hanya kemandulan akut, namun Torres saat ini menjadi lelucon tersendiri dan seorang 'cheerleader' di pinggir lapangan untuk rekan-rekannya.
Tugas mencetak gol untuk sebuah tim telah berpindah tangan, fenomena yang sangat wajar terjadi dalam filosofi sepakbola modern. Lihat saja aksi Cristiano Ronaldo di Real Madrid, Lionel Messi di Barcelona, atau sepak terjang Gareth Bale akhir-akhir ini untuk Tottenham Hotspur. Mereka sejatinya bukanlah seorang striker murni, ketiga pemain tersebut mengawali karir sepakbola profesional sebagai seorang winger. Atau bagaimana Robin van Persie [Manchester United] dan Luis Suarez [Liverpool] menjadi mesin pencetak gol bagi klubnya masing-masing. Selain memiliki naluri untuk mencetak gol, mereka juga merupakan pemain yang 'tidak malas' dan 'tidak pernah bosan' untuk terus bergerak dan bermain dalam mobilitas tinggi.
Sepakbola modern pun akhirnya memunculkan fenomena di mana semakin banyaknya pemain non striker murni diplot mengisi lini terdepan dalam taktik permainan sebuah tim sepakbola. Para striker murni atau target man seakan tersingkir dan menjadi penghuni setia bangku cadangan di pinggir lapangan. Hal ini dilakukan agar tim tersebut dapat memainkan sepakbola dengan kecepatan dan mobilitas tinggi di mana pemain bisa bertukar posisi dan terus bergerak untuk mengeksploitasi setiap jengkal luas lapangan sehingga tim tersebut dapat memiliki banyak opsi untuk mencetak gol dan meraih kemenangan dalam sebuah pertandingan.
Meski begitu bukan berarti pemain bertipe target man benar-benar telah lenyap dari jagat sepakbola. Javier Hernandez adalah striker murni yang masih diandalkan oleh Manchester United dan timnas Meksiko, atau wonderkid seperti Stephan El Shaarawy yang sukses menjadi 'the next Inzaghi' untuk AC Milan dan timnas Italia. Begitu juga dengan Falcao dan Cavani di timnya masing-masing. Mereka paling tidak masih bisa berperan sebagai target man hingga saat ini dan bertahan dalam siklus 'seleksi alam' sepakbola modern. Tak jarang pula mereka menjadi pemecah kebuntuan saat tim mereka kesulitan untuk mencetak gol.
Terlepas dari semua itu, menurut saya sepakbola tetaplah simpel: passing, shooting, and goal!
Di masa lalu, kita mungkin masih ingat dengan Pele, Ronaldo Luiz Nazario Da Lima, Ruud van Nistelrooy, Christian Vieri, Gabriel Batistuta, Filippo Inzaghi, Oliver Bierhoff, Fernando Morientes. Persamaan dari kedelapan nama tersebut: mereka adalah pemain depan tipe target man atau striker murni dalam tim-nya masing-masing dan tugas mereka hanya satu yakni berada di dalam kotak penalti lawan untuk memanfaatkan peluang sekecil apapun menjadi sebuah gol.
Christian Vieri
Kita tentu masih ingat bagaimana mematikannya sundulan Bierhoff ketika ia mendapatkan crossing dari sisi lapangan, atau betapa mengerikannya finishing dan insting gol yang dimiliki Inzaghi saat ia mendapatkan peluang sekecil apapun. Kedua striker tersebut memiliki kemampuan positioning di atas rata-rata, sebuah kemampuan mutlak seorang 'pembunuh' kiper-kiper lawan.
Saya tidak mengatakan bahwa di zaman sepakbola modern seperti saat ini sudah tidak ada striker dengan tipe tersebut. Masih ada nama-nama seperti Didier Drogba [Galatasaray], Fernando Torres [Chelsea], Edin Dzeko [Manchester City], Gonzalo Higuain [Real Madrid], Edinson Cavani [Napoli], Radamel Falcao [Atletico Madrid], atau Zlatan Ibrahimovic [Paris Saint-Germain].
Namun filosofi sepakbola modern seakan melakukan 'seleksi alam' dan memaksa untuk merubah fungsi dan peran seorang striker dalam sebuah tim. Saat ini seorang striker bukanlah pemain yang bertugas untuk 'menunggu' di dalam kotak penalti namun juga diwajibkan untuk terus bergerak dan berlari menjemput bola. Jika para striker tersebut tidak mampu beradaptasi maka tinggal menunggu saja sampai waktu mulai menghapus nama-nama mereka dari lembaran sejarah sepakbola.
Hal ini pernah dialami oleh seorang Ibrahimovic ketika ia bermain untuk Barcelona beberapa tahun silam. Ia gagal menyesuaikan diri dengan permainan tiki-taka Barca yang menuntut mobilisasi tingkat tinggi yang menyebabkan ia gagal bersinar dan tersingkir dari barisan juru gedor Barcelona.
Atau kita bisa menengok kasus Fernando Torres di Chelsea saat ini. Bermain dengan garang di Atletico Madrid dan Liverpool sebagai seorang target man, Torres malah melempem dan menjadi pesakitan dalam skuad 'The Blues' ketika ia dituntut untuk lebih bergerak mengeksploitasi luas lapangan dalam skema permainan Chelsea. Tidak hanya kemandulan akut, namun Torres saat ini menjadi lelucon tersendiri dan seorang 'cheerleader' di pinggir lapangan untuk rekan-rekannya.
Tugas mencetak gol untuk sebuah tim telah berpindah tangan, fenomena yang sangat wajar terjadi dalam filosofi sepakbola modern. Lihat saja aksi Cristiano Ronaldo di Real Madrid, Lionel Messi di Barcelona, atau sepak terjang Gareth Bale akhir-akhir ini untuk Tottenham Hotspur. Mereka sejatinya bukanlah seorang striker murni, ketiga pemain tersebut mengawali karir sepakbola profesional sebagai seorang winger. Atau bagaimana Robin van Persie [Manchester United] dan Luis Suarez [Liverpool] menjadi mesin pencetak gol bagi klubnya masing-masing. Selain memiliki naluri untuk mencetak gol, mereka juga merupakan pemain yang 'tidak malas' dan 'tidak pernah bosan' untuk terus bergerak dan bermain dalam mobilitas tinggi.
Sepakbola modern pun akhirnya memunculkan fenomena di mana semakin banyaknya pemain non striker murni diplot mengisi lini terdepan dalam taktik permainan sebuah tim sepakbola. Para striker murni atau target man seakan tersingkir dan menjadi penghuni setia bangku cadangan di pinggir lapangan. Hal ini dilakukan agar tim tersebut dapat memainkan sepakbola dengan kecepatan dan mobilitas tinggi di mana pemain bisa bertukar posisi dan terus bergerak untuk mengeksploitasi setiap jengkal luas lapangan sehingga tim tersebut dapat memiliki banyak opsi untuk mencetak gol dan meraih kemenangan dalam sebuah pertandingan.
Meski begitu bukan berarti pemain bertipe target man benar-benar telah lenyap dari jagat sepakbola. Javier Hernandez adalah striker murni yang masih diandalkan oleh Manchester United dan timnas Meksiko, atau wonderkid seperti Stephan El Shaarawy yang sukses menjadi 'the next Inzaghi' untuk AC Milan dan timnas Italia. Begitu juga dengan Falcao dan Cavani di timnya masing-masing. Mereka paling tidak masih bisa berperan sebagai target man hingga saat ini dan bertahan dalam siklus 'seleksi alam' sepakbola modern. Tak jarang pula mereka menjadi pemecah kebuntuan saat tim mereka kesulitan untuk mencetak gol.
Terlepas dari semua itu, menurut saya sepakbola tetaplah simpel: passing, shooting, and goal!
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)

